Top Ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style6


Sebagian besar masyarakat yang berkembang dan hidup di Kalimantan memiliki aktifitas yang lebih ke arah harmonisasi dengan alam dan lingkungan sekitar. Mungkin sebagian orang menganggap kehidupan masyarakat Kalimantan yang masih bergelut di lahan tergolong belum makmur. Itu memang benar jika sudut pandang kemakmuran dari materi, uang dan gaya hidup modernis.

Akan tetapi jika memandang kemakmuran masyarakat Kalimantan dari kecukupan dan keharmonisan mereka hidup di lingkungannya, masyarakat Kalimantan memiliki kekayaan yang berlimpah. Selain itu pula, masyarakat merasa damai dan tentram dengan memegang tradisi kearifan terhadap alam. Hal ini bisa kita lihat dari profesi yang berbagai macam, sebagian besarnya masyarakat yang hidup di daerah tetap melakukan aktifitas pertanian, perkebunan dan perikanan.

Beberapa kearifian masyarakat Kalimantan yang bisa kita contoh dan bangun tradisi tersebut diantaranya adalah :

Tradisi Membangun Rumah

Dalam pembangunan rumah, masyarakat Kalimantan lebih mengutamakan penggunaan kayu dan bahan-bahan yang terbuat dari alam. Pembuatan rumah dengan bahan-bahan alam sangat lah cocok dan sesuai dengan iklim, georafis dan ekosistem yang pada dasarnya Kalimantan merupakan tempat beriklim tropis.

Dari berbagai macam jenis rumah yang dibuat oleh arsitek-arsitek tradisional seperti rumah Bubungan Tinggi, Rumah, Betang, Rumah Panggung dan lain-lainnya adalah metode pembangunan yang kaya akan kearifian masyarakat terhadap alam. Rumah-rumah jenis ini dibangun dengan sistem Pondasi Kaki Ayam (panggung), yang mana hal tersebut membuat sirkulasi udara yang bagus, menghindari pemadatan tanah yang dapat merusak resapan air bawah tanah.

Sebagian pula dari bentuk-bentuk rumah yang menggunakan pondasi tersebut, di bagian bawahnya sering kali mereka manfaatkan untuk mengembang-biakan binatang peliharaan (ayam, itik, babi). Ada pula yang dibangun dengan pondasi lebih tinggi, bagian bawah rumah dibuat menjadi tempat santai, tempat bermain anak-anak, tempat menyimpan alat-alat pertanian atau perlengkapan menangkap ikan. Karena dipergunakan bagian bawah dari rumah, maka pemilik rumah menjadi senang untuk membersihkannya agar tetap layak dipergunakan. Kearifian Ini dimaksudkan lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan memberikan keuntungan yang beragam.

Bagian atap dibuat dari berbagai bahan. Ada yang beratapkan Sirap (lembaran kayu Ulin), daun Rumbia, Paring/Haur (Bambu). Atap-atap seperti itu memiliki warna agak gelap dan kalem, sehingga (dapat menyerap) tidak memantulkan radiasi dan panas matahari yang dapat menjadi penyumbang peningkatan efek Rumah Kaca dan Global Warming. Pada bagian dalamnya pun tidak menjadi panas dan menggerahkan ketika kita berada di dalam rumah.

Tidak seperti bangunan-bangunan modern yang kita temukan saat ini. Kebanyakan dibangun dengan pondasi pemandatan tanah. Sehingga resapan air dipermukaan dan sungai bawah tanah menjadi terganggu bahkan tertutup. Tentu itu tidak mengherankan jika didaerah perkotaan yang padat akan bangunan beton mendapatkan banjir yang tidak terkendali pada musim penghujan.

Tradisi Bercocok Tanam

Tradisi bercocok tanam meliputi bertani, berkebun dan membuat pekarangan. Dalam istilah masyarakat di Kalimantan Selatan khususnya bertani memiliki bahasa tersendiri seperti Manuggal dan Bahuma.

Manugal merupakan metode tradisional yang kreatif untuk mengelola dan mengolah pertanian khususnya padi di lereng-lereng bukit atau gunung. Keadaan dimana suplai air lebih menitik beratkan pada musim dan curah hujan. Ini sama halnya dengan pertanian di lahan kering. Manugal umumnya dilakukan oleh masyarakat adat Dayak dan melalui proses spritual untuk meminta berkah lewat aruh-aruh adat. Aruh (pesta) adat tersebut dilakukan secara bertahap dari sebelum pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen dilakukan. Di Kalimantan Selatan, Aruh seperti itu disebut dengan istilah Aruh Bamula, Aruh Basambu, Aruh Bawanang, Aruh Ganal.

Kearifan pada manugal adalah ketika setelah aruh dilakukan, maka masyarakat dilarang untuk menebang, membunuh, atau merusak tumbuhan beserta binatang yang hidup disekitar mereka. Hal ini dipercaya untuk menjaga keseimbangan alam saat lahan menjadi gundul. Selain itu juga, setalah proses manugal selesai, lahan yang tidak dipergunakan lagi untuk pertanian pagi, dimanfaatkan untuk berkebun dan menanam pohon kembali.

Sedangkan pada pertanian Bahuma, metode yang dipergunakan tentulah berbeda. Karena Bahuma dilakukan pada lahan basah dan berair seperti rawa. Setiap tahunnya, masyarakat bisa mengerjakan humaan 2 kali. Sistem pengairan yang dipergunakan adalah meneruskan air mengalir dari lahan satu ke lahan yang lain. Mengalirnya air ini lebih lambat karena struktur kontur tanah agak datar. Sehingga air sebagian besarnya tetap menggenangi lahan dan tanah tetap mendapatkan pasokan cukup air.

Tradisi Menangkap Ikan

Tradisi yang masih pula bertahan dan arif terhadap lingkungan adalah motede menangkap ikan. Beberapa metode dalam penangkapan ikan oleh masyarakat Kalimantan.

Dengan menggunakan Tangan Saja

Di Kalimantan Selatan menangkap ikan dengan menggunakan metode tangan disebut cara penangkapan Mangacal. Metode ini memang unik, karena kita lebih mengandalkan keahlian tangan dan juga keberanian masuk ke dalam air.

Dengan menggunakan Alat dan Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Maunjun, merupakan metode menangkap ikan yang paling selektif. maunjung adalah cara penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yaitu Unjun (Id: Pancing). Ikan yan dipancing dibatasi penangkapannya sehingga sebagian besar ikan akan tetap hidup dan berkembang-biak secara alami di ekosistemnya.
  2. Mamair, merupakan metode menangkap ikan yang hampir mirip dengan manujun karena juga menggunakan alat pancing. Namun perbedaannya dengan maunjun adalah mamair metode yang dipergunakan untuk menangkap jenis ikan yang lebih besar seperti Haruan dan Tauman.
  3. Malunta, merupakan metode menangkap ikan dengan menggunakan alat yang disebut di daerah lokal dengan lunta. Lunta adalah jaring-jaring yang berbentuk kerucut. Pada bagian yang lebih besar ujungnya dipasangi dengan cincin-cincin pemberat dan pada bagian ujung atas dipasangi dengan tali yang lebih besar guna sebagai poros penarikan oleh penangkap ikan. Penangkapan dengan metode malunta kurang selektif, karena ia akan menangkap ikan-ikan dan benda lainnya yang masuk dalam ukuran besar ruang tali pada jaring tersebut.
  4. Mahancau, merupakan metode penangkapan ikan dengan menggunakan alat yang disebut dengan Hancau. Alat ini juga merupakan jaring yang lebih kecil dan berbentuk persegi empat. Tiap ujung segi tersebut diikatkan pada bilahan bambu dan membentuk pertemuan silang ditengahnya. Kemudian bagian tengah yang bertemu tersebut dipasang tali yang diikatkan pada batang bambu. Penggunaan hancau pada umumnya untuk menangkap ikan di ruang yang agak luas dan tidak banyak raba (Id: Sampah Organik Sungai).
  5. Mambandan, merupakan metode penangkapan ikan yang unik karena menggunakan media lain agar bisa mendapatkan ikan. Media lain tersebut adalah anak bebek. Mambandan ditujukan untuk menangkap ikan yang besar (Induk). Anak bebek tersebut adalah sebagai pemicu (umpan) induk ikan yang lapar. Anak bebek diikat dan dicelup-celupkan di daerah yang memungkinkan ada induk ikan.

Dengan menggunakan Alat Tanpa Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Mambanjur, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat pancing kecil yang terdiri dari kail, tali nilon dan bilahan bambu atau parupuk (tumbuhan rawa kering). Panjangnya alat yang disebut Banjur ini kurang lebih 100cm. Alat pancing kecil ini diletakkan dan disebar dibeberapa titik yang memungkinkan adanya ikan. Metode ini bersahabat lingkungan, karena dibiarkan begitu saja dan tidak mengganggu ketenangan ekosistem.
  2. Maringgi, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat yang disebut dengan ringgi. Ringgi berbentuk persegi jaring kecil yang diletakkan dan dibiarkan begitu saja di alur-alur kali (sungai kecil di sawah, depan rumah). Ringgi ini akan menangkap ikan ikan kecil seperti Sapat, Papuyu, Sanggiringan dan jenis ikan kecil lainnya.
  3. Malukah, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat bantu Lukah yang berbentuk seperti rudal. Lukah dibuat dari bilahan-bilahan bambu dan dirangkai dengan menggunakan tali atau rotan sehingga membentuk seperti pen atau rudal. Pada bagian belakang itu dibuat terbuka dan bagian depannya ditutup dengan menggunakan rumput atau bekas sabun colek. Di bagian dalamnya dipasang kerucut-kerucut jalinan bambu agar ikan yang masuk tidak bisa keluar kembali.
Dari kesekian banyaknya metode untuk mendapatkan ikan di sungai khususnya, metode di atas sangat ramah dengan ekosistem dan lingkungan. Karena penangkapan pada ikan hanya bersifat selektif pada ikan-ikan tertentu tidak seperti putas yang sangat membahayakan perkembang-biakan ikan. Sehingga bibit, anak dan ikan-ikan lainnya bisa tetap hidup serta berkembang biak di lingkungan mereka.

About Bang Yoes

Kehidupan yang sederhana dan hidup di daerah kota kecil tempat yang menyenangkan penuh kedamaian. Tak punya banyak kekayaan harta, tapi ide merupakan yang berharga. Persahabatan merupakan bagian dari wahana mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berguna.
«

Next

Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments:

  1. Berbagai perlengkapan alat pertanian tradisional seperti
    arit cangkl dll tersedia di tempat kami

    ReplyDelete


Top