Top Ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style6

Kepemimpinan Kekuasaan Kerajaan Banjar Masa ke Masa

Perjalanan panjang kisah sejarah kekuasaan dan kepemimpinan yang ada di Kalimantan Bagian Selatan (Banjar - Borneo). Dari sekian sumber-sumber sejarah yang masih ada, beberapa ringkasan masa kepemimpin, kerajaan, kekuasaan dan kejadian singkat di tanah Banjar.
Raja Banjar Surya Kusuma

Berikut ini merupakan daftarnya :

Pra Masuknya Islam

Sebelum Islam, Semi-Historical
NoKeadaan / Kepemimpinan
01Lembu Mangkurat
02Putri Tunjung Buih (fem.)
03Surya Nata I
04Surya Ganggawangsa
05Putri Kalungsu (fem.)
06Sakar Sungsang
07Sukarama
08Pangeran Mangkubumi
09Pangeran Tamanggung

Masuknya dan Pasca Masuknya Islam

Sultan-Sultan Muslim
NoKeadaan / KepemimpinanMasa
01??1386 - c.1520
02Terbentuknya Kerajaan Banjarmasin1387
03Suryan Syahfl. c.1520 - 1540
04Rahmatullahfl. c.1546
05Hidayatullah-
06Marhum Panembahan (Musta'in Bullah)Setelah 1612 - 1642
07Inayatullah1642 - ?
08Saidullah? - 1660
09Amrullah1660 d. c.1700
10Ri'ayatullah1660 - 1663
11Surya Nata II1663 - 1679
12Amrullah (restored)1679 - c.1700
13Tahmid Illah Ic.1700 - 1717
14Panembahan Kusuma Dilaga1717 - 1730
15Hamidullah1730 - 1734
16Tamjid Illah I1734 - 1759 d.1767
17Muhammad Aminullah1759 - 1761
18Sultan Nata (Tahmid Illah II)1761 - 1801
19Sulaiman Saidullah1801 - 1825
20Adam1825 - 1857
21Tamjid Illah II1857 - 1859
22Hidayatullah III1859 - 1860
23Tamjidullah III1860 - 1905
24Antasari1862 dan Selanjutnya
25Muhammad Said1862 - 1875
26Muhammad Seman1862 - 1905
27Negara Netherlands / Belanda1905 - 1942
28Negara Jepang1942 - 1945
29Negara Netherlands / Belanda1945 - 1949
30Negara Kesatuan Republik Indonesia1949 - Sekarang
31Khairul Saleh al-Mutashim Billah (NKRI)10 Dec 2010 - Sekarang

Sumber :
  1. Regnal Cronologies 
  2. Indonesian Traditional State 
  3. Potret Raja Banjar 

Jalur Panjat Tebing Desa Pasting

Pasting merupakan salah satu desa di Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang memiliki jalur panjat tebing. Jalur Panjat Tebing Pasting ini dipopulerkan ketika sekolah Panjat Tebing Merah Putih dan Vertical Rescue yang diadakan oleh gabungan para Pengiat Alam Hulu Sungai Tengah pada bulan Maret tahun 2013 yang lalu.
Original Photo Source : Panitia Sekolah Panjat Tebing Merah Putih 2013 Kalimantan Selatan

Sebelumnya beberapa pengiat dan pecinta alam sudah pernah melakukan pemanjatan di tebing tersebut, namun belum ada dibuatkan jalur tersendiri utnuk pemanjatan. Baru setelah adanya sekolah panjat, karena kebutuhan untuk latihan dan simulasi, maka dibuatlah beberapa jalur panjat yang sebagian besar pembuatnya merupakan instruktur sekolah panjat yang dibantu oleh tim teknis panitia sekolah panjat.

Daftar Jalur Panjat Tebing Desa Pasting
NONAMA JALURGRADEBLOKJUMLAH PITCHPEMBUAT JALURTAHUNKETERANGAN LOKASI
1Selamat Datang5,8ATop Rope Hanger CincinAfdal Firdaus & Adi Cahyadi Wibowo 2013Paling depan, pintu masuk sebelah kanan, depan sungai
2Side Cut5,9B4 BoltAdi Cahyadi Wibowo 2013Pintu masuk sebelah kiri (paling kiri)
3Merah Putih5,8B4 Bolt, Top CincinAfdal Firdaus2013Pintu masuk sebelah kiri (paling kiri)
4Hareudang5,9B4 BoltDeden Wahyudin, Afdal Firdaus, Arief Defri Asia Bangun2013Pintu masuk sebelah kiri (paling kiri)
5Pisung5,9B3 BoltDeden Wahyudin, Afdal Firdaus, Arief Defri Asia Bangun2013Pintu masuk sebelah kiri (paling kanan)
6Pelajaran5,8CTop RopeArief Defri Asia Bangun & Afdal Firdaus2013Pinggir lapangan utama, slab
7Super Fine5,6D5 HangerAdi Cahyadi Wibowo & Afdal Firdaus2013Pinggir lapangan utama, over hang
8Urat Pegat5,11D6 HangerAfdal Firdaus & Adi Cahyadi Wibowo 2013Pinggir lapangan utama, over hang
9Wedding Ring5,9E7 Hanger, Top CincinAdi Cahyadi Wibowo & Afdal Firdaus2013Kiri gua atas (paling kanan)
10Sangat Lebah5,9E5 Hanger, Top CincinDeden Wahyudin & Arief Defri Asia Bangun2013Kiri gua atas (paling kanan)
11Akar5,9E5 Hanger, Top CincinDeden Wahyudin & Arief Defri Asia Bangun2013Kiri gua atas (paling kanan)
12Ajep-Ajep5,9E4 Hanger, Top Cincindonny efansyah & Deden Wahyudin2013Kiri gua atas (paling kanan)
13Buk-Bak5,9E5 Hanger, Top CincinDeden Wahyudin & Donny Efansyah2013Kiri gua atas (paling kiri)
14Bivouac5,11C5 Hanger, Top CincinEddy Supriatna2013Pinggir lapangan utama (gua hitam bekas pembakaran)
15Tapa5.10F5 Hanger, Top CincinEddy Supriatna & M. Mukhlis2013Bawah goa teralis
16Sakti5.10F6 Hanger, Top CincinEddy Supriatna & M. Mukhlis2013Bawah goa teralis
17Stalaktit5.10F5 Hanger, Top CincinEddy Supriatna2013Jalan menuju goa teralis
18Bor Tiga5.9F3 HangerEddy Supriatna2013Jalan menuju goa teralis
19PSM5.9F4 Hanger, Top CincinEddy Supriatna2013Jalan menuju goa teralis

Untuk informasi pemanjatan tebing silahkan kontak Para Penggiat Alam Hulu Sungai Tengah atau di group Pecinta Pegunungan Meratus
Sumber Data :
  1. Indonesia Climbing Expedition
  2. Panitia Sekolah Panjat Tebing Merah Putih 2013 dan Vertical Rescue 2013 Kalimantan Selatan
  3. FPTI Pengurus Cabang Hulu Sungai Tengah

Bahasa-Bahasa di Pulau Borneo

Tahukah kita bahwa di pulau Borneo memiliki beragam bahasa di dalamnya. Kehidupan masyarakat yang tumbuh di alam Borneo memberikan dampak perkembangan bahasa yang beragam. Hal ini menyebabkan Borneo kaya akan bahasa.

Berikut ini adalah ragam bahasa yang ada di kepulauan Borneo; termasuk  dalam kasawan Kalimantan (Indonesia), Serawak-Sabah (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Secara geografis kita bisa melihat penyebaran melalui peta penyebaran Bahasa di pulau Borneo berikut ini yang saya dapatkan dari beberapa sumber.

Original Vector Source : http://www.ethnologue.com/map/ID_k__

Original Vector Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Banjar
Keluarga Bahasa :
Daftar Language Family (Keluarga Bahasa)
1GGreater Barito
2LLand Dayak
3MMalayic
4NNorth Borneo
5SSouth Sulawesi

Daftar Bahasa di Borneo
Kode NoKode BahasaNama BahasaKeterangan
01apgAmpanang-
02bdbBasap-
03beiBakati’-
04bfgBusang Kayan-
05bhvBahau-
06bjnBanjar-
07bknBukitan-
08bkrBakumpai-
09bljBolongan-
10bqrBurusu-
11bthBiatah Bidayuh-
12bveBerau Malay-
13bvkBukat-
14bvuBukit Malay-
15bydBenyadu’-
16djoJangkang-
17dunDusun Deyah-
18duqDusun Malang-
19duwDusun Witu-
20embEmbaloh-
21hovHovongan-
22ibaIban-
23kkxKohin-
24knlKeninjal-
25knxKendayan-
26kqvOkolod-
27kziKelabit-
28lbxLawangan-
29lgiLengilu-
30lndLun Bawang-
31lraRara Bakati’-
32mhyMa’anyan-
33mqgKota Bangun Kutai Malay-
34msaMalay-
35mtdMualang-
36mvvTagal Murut-
37mxdModang-
38nijNgaju-
39otdOt Danum-
40pkuPaku-
41pniAoheng-
42pucPunan Merap-
43pudPunan Aput-
44pufPunan Merah-
45pujPunan Tubu-
46putPutoh-
47rirRibun-
48sbrSembakung Murut-
49sbxSeberuang-
50scgSanggau-
51sdmSemandang-
52sdoBukar-Sadong Bidayuh-
53sgeSegai-
54sjbSajau Basap-
55slgSelungai Murut-
56snvSa’ban-
57sreSara Bakati’-
58syaSiang-
59tidTidong-
60tjgTunjung-
61tmnTaman-
62tsgTausug-
63twyTawoyan-
64uluUma’ Lung-
65vktTenggarong Kutai Malay-
66whkWahau Kenyah-
67whuWahau Kayan-
68xayKayan Mahakam-
69xdyMalayic Dayak-
70xemKembayan-
71xkdMendalam Kayan-
72xkeKereho-
73xklMainstream Kenyah-
74xknKayan River Kayan-
75xkyUma’ Lasan-

Sumber :
  1. Wikipedia - Languages_of_Kalimantan
  2. Wikipedia - Bahasa Banjar
  3. Ethnologue - Map of Kalimantan Languages 

Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan.
Original Photo Source : http://s276.photobucket.com/user/enya_2008/media/RumahBanjarBubungantinggi4.jpg.html

Ciri-Ciri

Menurut Tim Depdikbud Kalsel, ciri-cirinya :
  1. Atap Sindang Langit tanpa plafon
  2. Tangga Naik selalu ganjil
  3. Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir

Konstruksi

Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu. Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayu lah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.

Bagian Konstruksi Pokok

Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :
  1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
  2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung.
  3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
  4. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
  5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.
  6. Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.

Ruangan

Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :
  1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.
  2. Panampik Kacil, yaitu ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
  3. Panampik Tangah yaitu ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.
  4. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.
  5. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
  6. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.
  7. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

Ukuran

Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal. Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.

Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil. Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.

Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter. Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan, sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

Tata Ruang dan Kelengkapan
Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.
  • Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi menjadi surambi muka dan surambi sambutan.
  • Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.
  • Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu (dapur).
Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan kelengkapannya;

1. Surambi

Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.

2. Pamedangan

Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.

3. Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)


Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung, pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan terompah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.

4. Paluaran (Panampik Basar)

Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan Palidangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas, parapen, rehal.

5. Palidangan (Panampik Panangah)

Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa - Anjung Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap, kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.

6. Anjung Kanan - Anjung Kiwa

Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.

7. Padu (Id: Dapur)

Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit dan ayunan anak.

Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti. Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.

Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.

Memperkenalkan Alam sebagai Sumber Belajar

Alam merupakan bagian dari kehidupan di muka bumi. Alam adalah ruang di mana makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) dan tak hidup (air,api, udara dan tanah) tinggal bersama membentuk sebuah jaringan ekosistem yang kompleks (rumit). Setiap elemen keduanya di atas saling terkait satu sama lain dan akan saling mempengaruhi dalam waktu ke waktu.
Original Source : http://nagondrong.net/?attachment_id=120

Setiap waktu apa yang dilakukan manusia lebih besar pengaruhnya dibandingkan apa yang dilakukan makhluk hidup lainnya. Ada kerusakan yang terjadi oleh tangan manusia dan ada perbaikan yang dilakukan pula oleh manusia sebagai wujud penyeimbangan kehidupan di muka bumi. Pertanyaannya adalah apakah sebanding kerusakan dengan perbaikan yang dilakukan ataukah tidak.

Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan manusia dari masa ke masa perlu untuk tidak mengesampingkan alam sebagian bagian terpisah dari manusia. Alam mesti menjadi tempat bagi manusia untuk belajar keseimbangan dalam kehidupan. Alam merupakan sumber belajar yang efektif dan nyata sehingga lebih mudah dipahami.

Orginal Source : https://totopribadi.wordpress.com/tag/belajar-bersama-alam
Beberapa tahun belakangan ini, sudah mulai banyak terdapat wahana pendidikan yang dikenal sebagai sekolah alam. Walaupun dalam beberapa teknis pendidikan-nya berbeda, akan tetapi konsep pendidikan dalam sekolah alam di berbagai tempat memiliki kemiripan yaitu belajar di alam. Dengan belajar di alam, maka alam bisa menjadi wadah untuk belajar, media untuk belajar atau sumber belajar yang dinilai lebih interaktif dan menyenangkan oleh peserta didik.


Menanam Pohon; Berbuat Baik ke Seluruh Alam

Dahulu kala, orang-orang tua sering kali menanam pohon. Sebagian besar tujuannya untuk anak cucu mereka (generasi). menanam pohon merupakan aset yang sangat berharga dalam kehidupan di alam ini. Pola pikir masyarakat dulu sangatlah bijaksana sebabnya mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri namun juga memikirkan generasi-generasi mereka, walaupun hasilnya tidak sempat mereka nikmati sendiri.
Photo Original From : http://www.nyunyu.com/events/detail/kurangi-menanam-harapan-banyakin-menanam-pohon

Dari hal ini, kearifan orang dahulu akan alam patut kita berikan penghargaan. Karena mereka juga merupakan pejuang lingkungan dan kemakmuran bangsa. Penghargaan kepada mereka bukan dengan cara memberikan hadiah, bingkisan atau piala. Akan tetapi dengan menjaga dan melestarikan lingkungan hidup tersebut.

Sekarang ini perlu kita tanamkan sama-sama bahwa menanam pohon itu perlu untuk generasi. Maksudnya agar kita tidak menjadi manusia egois yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dan golongan saja.

Menanam pohon di waktu sekarang bisa berarti seperti berbuat baik kepada seluruh Alam dan dunia yang termasuk di dalamnya berbuat kebaikan kepada makhluk-makhluk lainnya baik makhluk hidup maupun makhluk tak hidup. Inilah yang perlu kita perjuangkan di waktu-waktu sekarang. Berjuang dan bersaing memberantas para para perusak alam. Perjuangan ini bukan berarti kita perang, namun dengan memberikan contoh, pendidikan, ketauladanan akan cinta kita kepada lingkungan hidup.
Photo Original From : http://astacala.org/2012/12/kondisiku-saat-ini/

Generasi sekarang sangat rentan dengan sikap egois (mementingkan diri sendiri) dan apatis (acuh tak acuh) kepada lingkungan sekitarnya. Banyak faktor yang membentuk kedua hal tersebut. Selain faktor luar (lingkungan dan keadaan) juga faktor dalam (pendidikan dan pemahaman terhadap pentingnya lingkungan hidup).

Pendidikan dan tauladan yang anarkis dan keras untuk menunjukkan cinta kepada alam (lingkungan) tidak lah menghasilkan dampak pendidikan yang lebih baik. Malah hal tersebut bisa memicu ketidak-tertarikan terhadap alam dan para pejuang lingkungan. Pendidikan alam perlu pendekatan yang kreatif, inovatif, interaktif serta menarik.

Oleh karena itu dengan mem-fasilitasi, mengarahkan, membina generasi untuk menanam pohon adalah salah satu cara yang baik. Karena menanam pohon memerlukan proses dan kesabaran hingga pohon bisa berkembang dengan semestinya.

Mengenal Fungsi Hutan Kalimantan

Hutan Borneo yang mana termasuk di dalamnya hutan Kalimantan dikenal oleh seluruh dunia sebagai Lungs of The World yaitu paru-paru dunia. Hal ini dikarena masih banyaknya tumbuhan yang hidup dalam ekosistem hutan baik yang masih alami dan juga sudah dikelola oleh masyarakat daerahnya. Disebut sebagai paru-paru dunia karena Borneo (Kalimantan, Malaysia dan Brunei Darussalam) memiliki penghasil oksigen terbesar guna kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia ini.
Photo Original From http://www.campsinternational.com/blog/2009/05/wwf-forest-campaigns

Secara umum fungsi yang dimiliki oleh hutan kalimantan antara lain :

A. Penyelamat Bumi

  1. Penghasil oksigen terbanyak di dunia yang diperlukan makhluk hidup (manusia, binatang dan tumbuhan). Bagaimana hutan Kalimantan bisa menghasilkan begitu banyak oksigen? Hal ini dikarenakan hutan Kalimantan ditumbuhi oleh berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan yang pada siangnya menghasilkan oksigen. Keteraturan antara siang dan malam yaitu 12 jam siang dan 12 jam malam merupakan pembagian waktu yang kondusif untuk perkembangan tumbuh-tumbuhan. Sehingga menghasilkan oksigen dan penggunaan oksigen oleh tumbuh-tumbuhan seimbang.
  2. Pencegah Global Warming. Hutan Kalimantan selayaknya hutan di daerah lain sangat membantu pemanasan global karena radiasi matahari dan panas bumi yang bergerumul di lapisan udara bumi. Hutan lebih banyak menyerap radiasi dan panas matahari. Hutan mampu untuk mengubah panas tersebut menjadi energi positif bagi tumbuhan dan lingkungan sekitar. Selain itu hutan Kalimantan, mengurangi panas bumi dan penguapan dari dalam bumi ke permukaan.

B. Penyelamat Daerah

  1. Pencegah Banjir. Hutan dan tumbuh-tumbuhannya membantu alam untuk mengontrol jumlah air yang muncul ke permukaan bumi. Air dengan curah hujan tinggi oleh kondisi Kalimantan yang terletak di wilayah tropis, memiliki potensi yang besar untuk banjir. Akan tetapi, resapan air ke dalam tanah dan penyuplaian air oleh tumbuhan membuat alam berkurang dari potensi banjir.
  2. Erosi dan Tanah Longsor. Kebanyakan erosi atau tanah longsor disebabkan oleh keadaan tanah yang rapuh dan mudah terbawa oleh air. Longsor bisa terjadi pada musim penghujan namun bisa pula terjadi di musim kemarau. Dengan adanya akar-akar pohon sebagai jaring dan jangkar yang memperkokoh struktur tanah, ketika musim penghujan, pohon-pohon mengikatnya sehingga bisa mengurangi ancaman dari erosi. Jika terjadinya erosi disertai dengan air bah, maka akan memungkinkan menjadi banjir lumpur.
  3. Kekeringan. Batang pohon memiliki kemampuan untuk menyimpan air dan mengatur sirkulasi air di sekitar pohon tersebut. Kekeringan yang terjadi ketika curah hujan turun dan panas cuaca yang terjadi menyebabkan pasokan air menjadi berkurang karena lebih banyak penguapan dibandingkan penyerapan. Kekeringan sangat berpengaruh terhadap meningkatnya konsumsi akan air dan juga keterbatasan suplai air akan mempengaruhi kesuburan dan hasil panen.
  4. Kekurangan Bahan Pangan. Terkait dengan kekeringan yang berimbas kepada kualitas dan kuantitas suplai makanan, hutan dan pohon menjadi sumber pangan yang cukup berlimpah bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia atau pun makhluk lainnya.
  5. Saringan Pembersih Air Alami. Hutan Kalimantan merupakan bagian penyaring dan sirkulasi air bersih. Akar-akar pohon baik yang terdapat di hutan atau di sekitar kita menguatkan kondisi tanah. Hal ini membuat hanya sebagian dari sampah alam dan mineral yang larut menuju permukaan laut. Racun, kotoran, mineral, bahkan tanah itu sendiri dijernihkan melalui proses sirkulasi air dari dataran tinggi hingga bermuara kelautan. Terjadi evaporasi atau menguapan air ke lapisan udara yang membentuk awan. Awan yang yang memiliki kandungan banyak air akan menjadi hujan. Air tersebut kembali bersih dan dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup.

Cerita Burung Ruai Berasal

Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan.
Sumber Ilustrasi : http://ceritarakyatnusantara.com

Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama ”Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan ”sakti.

Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak - kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu, keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain - main saja.

Dengan kedua latar belakang inilah, maka sang ayah ( raja ) menjadi pilih kasih terhadap putri - putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarah oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah maka keenam kakak si bungsu menjadi dendam, bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri, maka bila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis - habisan tanpa ada rasa kasihan sehingga tubuh si bungsu menjadi kebiru - biruan dan karena takut dipukuli lagi si bungsu menjadi takut dengan kakaknya.

Untuk itu segala hal yang diperintahkan kakaknya mau tidak mau sibungsu harus menurut seperti : mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara ke enam orang kakaknya hanya bersenda gurau saja.

Sekali waktu pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu terhadap sibungsu diketahui oleh sang raja ( ayah ) dengan melihat badan ( tubuh ) si bungsu yang biru karena habis dipukul tetapi takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah, dan bila sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya maka keenam orang kakaknya tersebut membuat alasan - alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa - apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan sibungsu biru karena sibungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percayanya sang ayah terhadap cerita dari sang kakak maka sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud.

Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya, meskipun demikian sibungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya, kadang - kadang si bungsu menangis tersedu - sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan.

Setelah mengalami hari - hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan diantara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak ( putrinya ) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pulalah diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu, yang penting bila sang raja tidak ada di tempat, maka masalah - masalah yang berhubungan dengan kerajaan ( pemerintahan ) harus mohon ( minta ) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing - masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Serta timbul dalam hati masing - masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu bukan kepada mereka.

Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka pada keesokan harinya berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya.

Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Maka tibalah saatnya yaitu saat-saat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya yaitu ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh. Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari.

Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya dan rencanapun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu, apakah yang dilakukannya ?. Ternyata keenam kakanya mengajak si bungsu untuk mencari ikan ( menangguk ) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur ( oval ). Karena sangat gembira bahwa kakaknya mau berteman lagi dengannya, lalu si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali.

Tanpa berpikir panjang lagi maka berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu, dengan masing - masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju ( lokasi menangguk ), yaitu gua batu, si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua, baru diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya.

Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua, sedangkan keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak - bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul - betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsupun tersesat.

Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, maka tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut dan duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya, si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satupun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang kesana kemari.

Bagaimana nasib si bungsu ? tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya, namun ia masih belum bisa untuk pulang, tepatnya pada hari ketujuh si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka - sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu, suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut, si bungsupun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya, maka pada saat itu dengan disertai bunyi yang menggelegar muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu, lalu si bungsupun terkejut melihatnya, tak lama kemudian kakek itu berkata, ” Sedang apa kamu disini cucuku ? ”, lalu si bungsupun menjawab, ” Hamba ditinggalkan oleh kakak - kakak hamba, kek ! ”, maka si bungsupun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar, tanpa diduga-duga pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya, kemudian si bungsupun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, ” Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama ” Burung Ruai, apabila aku telah hilang dari pandanganmu maka eramlah telur-telur itu supaya jadi burung - burung sebagai temanmu ! ”. Kemudian secara spontanitas si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek ... kwek ... kwek ... kwek .... kwek, Bersamaan dengan itu kakek sakti itu menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek ... kwek .... kwek ... kwek .... kwek, Mereka menyaksikan kakak - kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu.

Sumber : http://sambas.go.id/cerita-rakyat/1190-asal-mula-terjadinya-burung-ruai.html

Tradisi Manginang yang Mulai Pudar


Dahulu, ketika nenek saya masih hidup. Sesekali dalam seminggu paling tidak ia mengunyah sesuatu yang membuat saya sendiri bingung pada waktu itu. Ia duduk manis sambil Mahambit (membuat atap dari daun Rumbia). Beberapa lama kemudian mulutnya mulai terlihat cairan merah. Darah keluar, anggap saya. Ia pun tak lama memuntahkan kunyahan yang sudah berwarna kemerah-merahan itu. Terkejut tentu.
Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html

Lalu saya bertanya kepada beliau :”Kanapa ni, muntung pian? (ada apa dengan mulut nenek?)”, seraya ia terseyum dan berkata dengan gumaman mulut berisi: “Ngini nagarannya manginang cu ai. (Ini namanya Manginang”. Kemudian ia melanjutkan lagi hambitan-nya.

Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html
Tradisi orang-orang yang pernah hidup dari jaman dulu memang unik dan penuh hikmah yang kadang kala masyarakat sekarang tidak pernah terpikirkan atau belum sampai memikirkan sejauh itu. Dengan kemajuannya jaman sekarang ini tradisi masyarakat untuk Manginang tersebut mulai luntur. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang diantaranya adalah :
  • Perubahan pola pikir
  • Gaya hidup masyarakat modern
  • Tradisi lama dianggap kurang memberikan pendidikan.
  • Anggapan Kono
  • Anggapan Kurang bersih
  • Rasa Malu dan ego
  • Dan sebagainya.
Manginang adalah kegiatan mengunyah biji pinang beserta rempah-rempah lain. Selambar sirih dioles kapur, dicampur gambir, ditambah pinang dijadikan kinangan. Kinangan dimakan disebut "manginang". Manginang menjadi suatu kebiasaan masyarakat yang menjadi budaya masyarakat Banjar, terutama kaum wanita yang sudah tua maupun para gadis yang memasuki masa remaja yang dilakukan secara turun-temurun.Rempah-rempah tersebut antara lain :
  1. Daun sirih
  2. Cengkeh
  3. Kapur makan
  4. Gambir
  5. Kacip
Beberapa pendapat tentang manfaat oleh orang yang masih memakai tradisi manginang adalah :
Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html
  1. Menginang menguatkan gigi dan gusi.
  2. Menginang untuk menjaga dan merawat kesehatan mulut dan gigi juga digunakan sebagai pengganti kebiasaan merokok
  3. Mencegah bau mulut
  4. Sepah kucuran pinang mengandung bahan anti-biotik berfungsi untuk mengobati luka

Sisi Kearifan Orang Kalimantan Terhadap Alam


Sebagian besar masyarakat yang berkembang dan hidup di Kalimantan memiliki aktifitas yang lebih ke arah harmonisasi dengan alam dan lingkungan sekitar. Mungkin sebagian orang menganggap kehidupan masyarakat Kalimantan yang masih bergelut di lahan tergolong belum makmur. Itu memang benar jika sudut pandang kemakmuran dari materi, uang dan gaya hidup modernis.

Akan tetapi jika memandang kemakmuran masyarakat Kalimantan dari kecukupan dan keharmonisan mereka hidup di lingkungannya, masyarakat Kalimantan memiliki kekayaan yang berlimpah. Selain itu pula, masyarakat merasa damai dan tentram dengan memegang tradisi kearifan terhadap alam. Hal ini bisa kita lihat dari profesi yang berbagai macam, sebagian besarnya masyarakat yang hidup di daerah tetap melakukan aktifitas pertanian, perkebunan dan perikanan.

Beberapa kearifian masyarakat Kalimantan yang bisa kita contoh dan bangun tradisi tersebut diantaranya adalah :

Tradisi Membangun Rumah

Dalam pembangunan rumah, masyarakat Kalimantan lebih mengutamakan penggunaan kayu dan bahan-bahan yang terbuat dari alam. Pembuatan rumah dengan bahan-bahan alam sangat lah cocok dan sesuai dengan iklim, georafis dan ekosistem yang pada dasarnya Kalimantan merupakan tempat beriklim tropis.

Dari berbagai macam jenis rumah yang dibuat oleh arsitek-arsitek tradisional seperti rumah Bubungan Tinggi, Rumah, Betang, Rumah Panggung dan lain-lainnya adalah metode pembangunan yang kaya akan kearifian masyarakat terhadap alam. Rumah-rumah jenis ini dibangun dengan sistem Pondasi Kaki Ayam (panggung), yang mana hal tersebut membuat sirkulasi udara yang bagus, menghindari pemadatan tanah yang dapat merusak resapan air bawah tanah.

Sebagian pula dari bentuk-bentuk rumah yang menggunakan pondasi tersebut, di bagian bawahnya sering kali mereka manfaatkan untuk mengembang-biakan binatang peliharaan (ayam, itik, babi). Ada pula yang dibangun dengan pondasi lebih tinggi, bagian bawah rumah dibuat menjadi tempat santai, tempat bermain anak-anak, tempat menyimpan alat-alat pertanian atau perlengkapan menangkap ikan. Karena dipergunakan bagian bawah dari rumah, maka pemilik rumah menjadi senang untuk membersihkannya agar tetap layak dipergunakan. Kearifian Ini dimaksudkan lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan memberikan keuntungan yang beragam.

Bagian atap dibuat dari berbagai bahan. Ada yang beratapkan Sirap (lembaran kayu Ulin), daun Rumbia, Paring/Haur (Bambu). Atap-atap seperti itu memiliki warna agak gelap dan kalem, sehingga (dapat menyerap) tidak memantulkan radiasi dan panas matahari yang dapat menjadi penyumbang peningkatan efek Rumah Kaca dan Global Warming. Pada bagian dalamnya pun tidak menjadi panas dan menggerahkan ketika kita berada di dalam rumah.

Tidak seperti bangunan-bangunan modern yang kita temukan saat ini. Kebanyakan dibangun dengan pondasi pemandatan tanah. Sehingga resapan air dipermukaan dan sungai bawah tanah menjadi terganggu bahkan tertutup. Tentu itu tidak mengherankan jika didaerah perkotaan yang padat akan bangunan beton mendapatkan banjir yang tidak terkendali pada musim penghujan.

Tradisi Bercocok Tanam

Tradisi bercocok tanam meliputi bertani, berkebun dan membuat pekarangan. Dalam istilah masyarakat di Kalimantan Selatan khususnya bertani memiliki bahasa tersendiri seperti Manuggal dan Bahuma.

Manugal merupakan metode tradisional yang kreatif untuk mengelola dan mengolah pertanian khususnya padi di lereng-lereng bukit atau gunung. Keadaan dimana suplai air lebih menitik beratkan pada musim dan curah hujan. Ini sama halnya dengan pertanian di lahan kering. Manugal umumnya dilakukan oleh masyarakat adat Dayak dan melalui proses spritual untuk meminta berkah lewat aruh-aruh adat. Aruh (pesta) adat tersebut dilakukan secara bertahap dari sebelum pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen dilakukan. Di Kalimantan Selatan, Aruh seperti itu disebut dengan istilah Aruh Bamula, Aruh Basambu, Aruh Bawanang, Aruh Ganal.

Kearifan pada manugal adalah ketika setelah aruh dilakukan, maka masyarakat dilarang untuk menebang, membunuh, atau merusak tumbuhan beserta binatang yang hidup disekitar mereka. Hal ini dipercaya untuk menjaga keseimbangan alam saat lahan menjadi gundul. Selain itu juga, setalah proses manugal selesai, lahan yang tidak dipergunakan lagi untuk pertanian pagi, dimanfaatkan untuk berkebun dan menanam pohon kembali.

Sedangkan pada pertanian Bahuma, metode yang dipergunakan tentulah berbeda. Karena Bahuma dilakukan pada lahan basah dan berair seperti rawa. Setiap tahunnya, masyarakat bisa mengerjakan humaan 2 kali. Sistem pengairan yang dipergunakan adalah meneruskan air mengalir dari lahan satu ke lahan yang lain. Mengalirnya air ini lebih lambat karena struktur kontur tanah agak datar. Sehingga air sebagian besarnya tetap menggenangi lahan dan tanah tetap mendapatkan pasokan cukup air.

Tradisi Menangkap Ikan

Tradisi yang masih pula bertahan dan arif terhadap lingkungan adalah motede menangkap ikan. Beberapa metode dalam penangkapan ikan oleh masyarakat Kalimantan.

Dengan menggunakan Tangan Saja

Di Kalimantan Selatan menangkap ikan dengan menggunakan metode tangan disebut cara penangkapan Mangacal. Metode ini memang unik, karena kita lebih mengandalkan keahlian tangan dan juga keberanian masuk ke dalam air.

Dengan menggunakan Alat dan Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Maunjun, merupakan metode menangkap ikan yang paling selektif. maunjung adalah cara penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yaitu Unjun (Id: Pancing). Ikan yan dipancing dibatasi penangkapannya sehingga sebagian besar ikan akan tetap hidup dan berkembang-biak secara alami di ekosistemnya.
  2. Mamair, merupakan metode menangkap ikan yang hampir mirip dengan manujun karena juga menggunakan alat pancing. Namun perbedaannya dengan maunjun adalah mamair metode yang dipergunakan untuk menangkap jenis ikan yang lebih besar seperti Haruan dan Tauman.
  3. Malunta, merupakan metode menangkap ikan dengan menggunakan alat yang disebut di daerah lokal dengan lunta. Lunta adalah jaring-jaring yang berbentuk kerucut. Pada bagian yang lebih besar ujungnya dipasangi dengan cincin-cincin pemberat dan pada bagian ujung atas dipasangi dengan tali yang lebih besar guna sebagai poros penarikan oleh penangkap ikan. Penangkapan dengan metode malunta kurang selektif, karena ia akan menangkap ikan-ikan dan benda lainnya yang masuk dalam ukuran besar ruang tali pada jaring tersebut.
  4. Mahancau, merupakan metode penangkapan ikan dengan menggunakan alat yang disebut dengan Hancau. Alat ini juga merupakan jaring yang lebih kecil dan berbentuk persegi empat. Tiap ujung segi tersebut diikatkan pada bilahan bambu dan membentuk pertemuan silang ditengahnya. Kemudian bagian tengah yang bertemu tersebut dipasang tali yang diikatkan pada batang bambu. Penggunaan hancau pada umumnya untuk menangkap ikan di ruang yang agak luas dan tidak banyak raba (Id: Sampah Organik Sungai).
  5. Mambandan, merupakan metode penangkapan ikan yang unik karena menggunakan media lain agar bisa mendapatkan ikan. Media lain tersebut adalah anak bebek. Mambandan ditujukan untuk menangkap ikan yang besar (Induk). Anak bebek tersebut adalah sebagai pemicu (umpan) induk ikan yang lapar. Anak bebek diikat dan dicelup-celupkan di daerah yang memungkinkan ada induk ikan.

Dengan menggunakan Alat Tanpa Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Mambanjur, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat pancing kecil yang terdiri dari kail, tali nilon dan bilahan bambu atau parupuk (tumbuhan rawa kering). Panjangnya alat yang disebut Banjur ini kurang lebih 100cm. Alat pancing kecil ini diletakkan dan disebar dibeberapa titik yang memungkinkan adanya ikan. Metode ini bersahabat lingkungan, karena dibiarkan begitu saja dan tidak mengganggu ketenangan ekosistem.
  2. Maringgi, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat yang disebut dengan ringgi. Ringgi berbentuk persegi jaring kecil yang diletakkan dan dibiarkan begitu saja di alur-alur kali (sungai kecil di sawah, depan rumah). Ringgi ini akan menangkap ikan ikan kecil seperti Sapat, Papuyu, Sanggiringan dan jenis ikan kecil lainnya.
  3. Malukah, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat bantu Lukah yang berbentuk seperti rudal. Lukah dibuat dari bilahan-bilahan bambu dan dirangkai dengan menggunakan tali atau rotan sehingga membentuk seperti pen atau rudal. Pada bagian belakang itu dibuat terbuka dan bagian depannya ditutup dengan menggunakan rumput atau bekas sabun colek. Di bagian dalamnya dipasang kerucut-kerucut jalinan bambu agar ikan yang masuk tidak bisa keluar kembali.
Dari kesekian banyaknya metode untuk mendapatkan ikan di sungai khususnya, metode di atas sangat ramah dengan ekosistem dan lingkungan. Karena penangkapan pada ikan hanya bersifat selektif pada ikan-ikan tertentu tidak seperti putas yang sangat membahayakan perkembang-biakan ikan. Sehingga bibit, anak dan ikan-ikan lainnya bisa tetap hidup serta berkembang biak di lingkungan mereka.

Peningkatan Kualitas Pariwisata Daerah

Pariwisata merupakan salah satu cara pengembangan daerah menjadi lebih baik. Pariwisata membawa berbagai keuntungan yang banyak bagi daerah dan warganya. Baik itu secara langsung ataupun melalui proses yang panjang.

Untuk meningkatkan nilai jual daerah dengan aset dan potensi wisata yang perlu lah tentunya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai lapisan termasuk didalamnya masyarakat itu sendiri, pemerintah sebagai penggerak, para penggiat sebagai pemantau lapangan dan masukan-masukan tentunya akan juga dapat membantu meningkatkannya.

Memberikan Pemahaman kepada Masyarakat

Dalam persaingannya (pariwisata) dengan bidang lain sangat lah kompetitif seiringin terbukanya jalur internasional yang memberikan dampak postif dan negatif yang kuat pada perkembangan negara. Kepariwisataan perlu didukung perkembangnya oleh berbagai pihak terutama masyarakat daerah itu sendiri dan pemerintah daerah sebagai pemegang kekuasaan daerah.

Kepariwisataan bisa menjadi aset dan modal untuk peningkatan kualitas daerah. Baik peningkatan mutu pengolahan produk perdagangan, peningkatan mutu pendidikan, pengkatan pendapatan daerah, dan lain-lainnya. Akan tetapi untuk mencapai tujuan pariwisata, pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait dengan kepariwisataan perlu memberi pemahaman kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana pariwisata itu, seberapa banyak memeberikan keuntungan kepada masyarakat dan daerah.

Masyarakat yang sudah sadar pariwisata akan sendirinya termotivasi untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di lingkungan mereka. Hal ini akan terlihat di dalam kehidupan masyarakat yang welcome terhadap pengunjung/pendatang. Situasi masyarakat yang bisa mencapai "welcome" tersebut tidak hanya terkait dengan sambutan hangat masyarakat tapi juga disana terkandung "friendly", layanan umum yang bagus, transparansi layanan serta tersedianya daya tarik daerah yang berbentuk fisik (tempat, sarana prasarana, kekuatan budaya) yang semuanya mesti lah unik dan menarik.

Mendukung Pengelolaan Tempat Wisata

Untuk meningkatkan kualitas pariwisata, tentu perlu dukungan dari berbagai pihak. Segala bentuk dukungan sudah semestinya lah diperlukan dalam hal pengelolaan tempat yang memiliki potensi atau sudah menjadi lokasi pariwisata. Bentuk dukungan yang dimaksud bisa seperti :
1. Dukungan pembuatan fasilitas
2. Dukungan pelatihan peningkatan layanan dan kinerja
3. Dukungan sosialisasi lokasi wisata

Memberikan Kesempatan

Hal yang juga penting dalam peningkatan kualitas pariwisata adalah dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengembangkan daerah yang mereka anggap memiliki potensi pariwisata. Kesempatan merupakan lahan basah guna memperkaya potensi dan kawasan wisata di daerah. Masyarakat yang sudah memiliki inisiatif, inovasi, keinginan untuk membangun kawasan wisata secara mandiri merupakan nilai plus bagi pemerintah daerahnya. Karena motivasi dari dalam masyarakat sudah dimiliki oleh mereka ini, walaupun nantinya tetap perlu dibina dan diberi bimbingan agar kepariwisataan daerah memiliki ukuran dan standar.

Mengadakan Penelitian, Pengembangan dan Latihan

Sebagian besar kualitas yang meningkat dipengaruhi oleh adanya kegiatan-kegiatan penelitian terhadap kelebihan dan kekurangan kualitas pariwisata daerah tersebut yang kemudian dilakukan kegiatan pengembangan dan perbaikan. Selain pemenuhan kualitas dan kuantitas dari bentuk fisik (sarana dan prasarana) juga perlu diimbangi dengan pelatihan-pelatihan para pengelola kawasan wisata dan masyarakat. Beberapa pelatihan-pelatihan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pariwisata antara lain :

1. Pelatihan Bahasa Asing

Bahasa asing yang mana sekarang ini sudah banyak masuk ke dalam bahasa keseharian kita merupakan modal untuk mendapatkan kualitas kepariwisataan daerah yang bernilai internasional. Bahasa-bahasa asing yang perlu dikembangkan di daerah bisa seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Itali, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Arab, Bahasa Cina, dan lain-lainnya. Bahasa-bahasa tersebut merupakan media komunikasi yang diperlukan ketika menjalin hubungan dan penginformasian kepada masyarakat dunia. Walaupun perlu dikembangkan bahasa asing di daerah, tetapi juga bahasa lokal mesti tetap dipertahankan dan dikembangkan karena merupakan corak daerah.

2. Pelatihan Standar Layanan

Selain pengembangan dengan pelatihan bahasa asing, tentu tidak kita tepikan bagaimana cara memberikan layanan yang standar bagi para wisatawan. Layanan-layanan yang diperlukan mesti ada standar yang transparan guna mempermudah bagi para wisatawan yang berkunjung. Misalnya di daerah wisata perlu adanya layanan kesehatan sementara, layanan informasi, layanan konsumsi dan sebagainya.

3. Pelatihan Karya dan Kerajian Masyarakat

Di setiap daerah sebagian besarnya memiliki potensi penghasil karya atau kerajinan yang khas daerahnya. Kerajinan-kerajinan ini bisa dalam bentuk makanan khas, produk khas rumah tangga, produk khas adat dan lain-lain. Potensi karya ini akan menjadi dukungan kualitas pariwisata di daerah. Karena kebanyakan dari pelancong mencari sesuatu yang unik di daerah yang mereka kunjungi.

Sosialisasi Online dan Offline

Sosialisasi atau memperkenalkan citra baik terhadap masyarakat umum dalam peningkatan kualitas pariwisata bisa dilakukan secara online dan juga offline. Sosialisasi secara online sekarang ini sudah banyak cara yang diantaranya adalah pembuatan website, blog dan sosial media serta kontak informasi melalui email yang tercakup dalam pengiinformasi melalui internet, telepon, televisi, radio. Penginformasian melalui jaringan online tersebut memberikan efek peningkatan yang sangat signifikan, karena kebanyakan para pengunjung dari luar daerah berminat dari informasi yang disajikan cukup memadai.

Selain itu pula, sosialisasi perlu juga dilakukan secara offline dengan memaksimalkan informasi lewat media masa (surat kabar dan majalah), brosur, buku petunjuk dan spanduk/baliho.

Pembentukan Kata dalam Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bahasa persatuan daerah bagi warga Kalimantan Selatan. Bahasa ini dipergunakan dalam kehidupan keseharian seperti berbelanja, bergaul, berbicara santai dan lain-lain yang semua itu merupakan cara yang komunikatif dan sering dipergunakan oleh sesama warga Kalimantan Selatan khususnya.

Secara kebahasaan dan historikal, Bahasa Banjar memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan pembentukan Bahasa Indonesia (Bahasa Nasional) berasal dari rumpun Bahasa Melayu juga selayaknya Bahasa Banjar. Sehingga sedikit banyaknya Bahasa Melayu, Bahasa Banjar dan Bahasa Indonesia memiliki hubungan sejarah dan perkembangan yang terkait.

Bahasa Banjar akan lebih mudah dipelajari apabila pengguna bahasa pernah atau biasa mempergunakan salah satu bahasa lainya yang disebukan di atas (Indonesia atau Melayu). Karena kosa kata yang terdapat di antara ketiga bahasa tersebut memiliki kesaaman yang cukup banyak dan memiliki sedikit perbedaan.

Kesamaan tersebut pada umumnya terjadi pada jenis kata kerja, kata benda, sebagian kata sifat dan sebagainya. Dalam perbedaannya adalah pada kata kerja Bahasa Banjar penggunaan huruf /E/ dalam imbuhan aktif (Me atau Ber) akan berubah menjadi huruf /A/ dan huruf /R/ akan luntur. Sebagai contoh Berladang (Id) menjadi Baladang (Bj). Membaca (Id) menjadi Mambaca (Bj).

Dalam proses perkembangan bahasa termasuk Bahasa Banjar ada beberapa pembentukan kata :

Branding

Istilah Branding saya perkenalkan dan gunakan untuk pembentukan kata baru dalam Bahasa Banjar yaitu pemakaian/penyebutan dengan kata yang berasal dari merek dagang. Contoh dalam Bahasa Banjar :
  • Honda (Merek) : Ba-Hunda (Orang Banjar Hulu Sungai menyebutnya untuk sepeda motor pada umumnya).
  • Sing Saw (Merek) : Sinsu - Ma-nyinsu (Alat Pemotong Batang Pohon).
  • Dragon (Merek) : Dragun (Alat Pompa Air)
  • Sunlight (Merek) : Sunlih (Cairan untuk mencuci)
  • Swalow (Merek) : Sualau (Alas Kaki/Sendal)
  • dan lain-lain
Beberapa kosa kata yang dibentuk dari proses Branding sebagianya masih dipergunakan dalam Bahasa Banjar. Akan tetapi hal ini lebih banyak dipergunakan oleh orang-orang tua.

Afiksasi

Afikasasi adalah pembentukan kata baru dengan penambahan Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) pada kata dasar. Contoh dalam Bahasa Banjar
  • /jalan/ menjadi /ba-jalan/ - /ba-jalan-an/
  • /makan/ menjadi /makan-an/ - /ma-makan/ - /ba-ma-makan/

Reduplikasi

Reduplikasi adalah pembentukan kata baru dengan pengulangan kata dasar sehingga menimbulkan makna dan kata baru. Dalam Bahasa Banjar sebagian reduplikasi biasanya dibentuk dari kata dasar yang sebagiannya hanya diambil pada suku kata pertama dan atau dikombinasikan dengan pembentukan kata afiksasi. Sebagai contoh :
  • /motor/ menjadi /ba-mo-motor-an/ - /mo-motor-an/
  • /kucing/ menjadi /ba-ku-kucing-an/ - /ba-ku-kucing-an/
Pembentukan kata dengan cara reduplikasi di atas menghasilkan makna baru yang umumnya memiliki arti menyerupai. Selain itu pula ada yang memiliki makna jamak (atau dikerjakan bersama-sama).
  • /masak/ menjadi /ba-masak-an/ - /ba-ma-masak-an/
  • /rumah/ menjadi /ba-rumah-an/ - /ba-ru-rumah-an/

Translasi

Translasi adalah pembentukan kata baru dengan cara penerjemahan dari bahasa lain. Sebagai contoh dari translasi adalah :
  • /cable/ menjadi /kabel/
  • /avocado/ menjadi /alpukat/
  • /apple/ menjadi /apel/
  • /computer/ menjadi /komputer/

Peminjaman Kata

Pembentukan kata dengan proses peminjaman dari bahasa lain yang kemudian dipergunakan dengan pengucapan yang sama atau berbeda dalam Bahasa Banjar. Sebagai contoh dari translasi adalah :
  • Handphone
  • Laptop
  • Kitab
  • Ustazd
  • Baterai

Komposisi

Istilah komposisi disebut juga dengan penggabungan yaitu pembentukan kata baru /frase dengan cara menggabungkan beberapa kata. Kompisisi ada yang menggabungkan antara morfem yang bebas dengan morfem bebas lainnya dan adapula yang menggabung dengan morfem yang terikat.

Sebagai contoh dalam Bahasa Banjar :
  • /sapida/ + /tinjak/ menjadi /sapida tinjak/
  • /ampun/ + /diri/ menjadi /ampun diri/

Dari berbagai pembentukan kata baru dalam Bahasa Banjar, ada kata-kata yang mirip dalam tulisan akan tetapi dalam pelafalan/pengucapan dari kata tersebut memiliki perbedaan. Ini khususnya pada kata kata yang ada huruf /c/ akan dibaca /k/, huruf /e/ berubah menjadi /i/, huruf /f/-/v/ akan dibaca /p/ dan huruf /o/ akan berubah ketika dalam pengucapan menjadi /u/.

Mengenal Jenis Jamur Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Selatan dan terdiri dari bukit-bukit yang diselimuti hutan hujan tropis. Curah hujan yang tinggi menimbulkan kesuburan pada tanah sebagai media hidupnya tumbuh-tumbuhan. Salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang sangat subur hidup secara alami di kawasan ini adalah jenis Kulat (Id: Jamur). Dari berbagai jenis jamur yang bisa tumbuh ada yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan ada pula yang mengandung toksin atau racun.

Beberapa yang bisa saya temukan jenis jamur adalah sebagai berikut :








Legenda Pagat, Batu Benawa

Konon pada jaman dahulu kala, di desa yang sekarang disebut dengan Pagat, hiduplah seorang janda tua bernama Diang Ingsung dengan seorang anaknya yang bernama Raden Penganten. Kehidupan mereka berdua diliputi dengan rasa kasih sayang, karena keluarga itu hanya terdiri dari dua orang sehingga tidak ada anggota keluarga lain tempat membagi kecintaannya.

Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka hanya hidup dari alam sekitarnya, tanaman hanya terbatas pada halaman rumahnya, demikian pula perburuannya terbatas pada binatang-binatang yang ada di sekitar desa mereka.

Karena itulah maka pada suatu ketika sang anak, Raden Penganten berniat untuk pergi madam (Id: merantau) untuk mencari pengalaman dan kehidupan baru di negeri orang. Demikian keras kemauan si Raden Penganten, sehingga walaupun ia dihalang-halangi dan dilarang ibunya, ia tetap juga pada kemauannya.

Akhirnya, si ibu hanya tinggal berpesan kepada anak satu-satunya yang ia kasihi, agar anaknya membelikan sekedar oleh-oleh apabila anaknya kembali dari perantauan. Maka, berangkatlah Raden Penganten ke sebuah negeri yang jauh dari desanya. Di sana ia dapat memperoleh rezeki yang banyak, karena selalu jujur dalam setiap perbuatannya. Di sana ia dapat pula menabungkan uangnya hingga dapat membeli barang-barang yang berharga untuk dapat dibawa kembali kelak. Di perantauan, Raden Penganten dapat pula menikah dengan seorang putri dari negri tersebut yang cantik paras mukanya.

Demikianlah maka Raden Penganten dapat tinggal di perantauannya, untuk beberapa tahun lamanya. Pada suatu ketika timbul lah niat Raden Penganten untuk kembali ke negerinya dan menjumpai ibunya yang telah lama ia tinggalkan.

Dibelinya sebuah kapal, lalu dipenuhi dengan barang-barang. Pada saat yang telah ditentukan, berangkatlah ia bersama istrinya menuju kampung halaman di mana ibunya tinggal. Berita kedatangannya itu terdengar pula oleh ibunya. Ibunya yang sekarang telah tua, dengan sangat tergesa-gesa datang ke pelabuhan untuk menjemput anaknya yang tercinta.

Namun ketika sampai di pelabuhan, betapa kecewanya hati Diang Ingsung, jangankan mendapat oleh-oleh yang dipesannya dulu, mengakui dirinya sebagai ibu yang telah melahirkannya pun, Raden Penganten tidak mau. Rupanya, di depan istrinya yang cantik jelita, ia merasa malu mengakui Diang Ingsung yang telah tua renta dan berpenampilan sangat bersahaja itu sebagai ibunya.

Betapa besar rasa kecewa dan sakit hati Diang Ingsung. Tapi ia masih berusaha menginsafkan anaknya yang durhaka itu, tapi Raden Penganten tetap membantah dan tetap tidak mau mengakui ibunya itu. Ia malahan membelokkan kapalnya mengarah ke tujuan lain meninggalkan pelabuhan dan Diang Ingsung yang hancur hatinya karena perbuatan anaknya yang durhaka.

Dengan hati yang penuh diliputi rasa kecewa dan putus asa, Diang Ingsung lalu memohon kepada yang Maha Kuasa agar anaknya mendapat balasan yang setimpal dengan kedurhakaan terhadap dirinya.

Seketika itu juga datanglah badai dan topan menghempaskan kapal Raden Penganten hingga pecah menjadi dua. Tentu saja seluruh isi kapal itu termasuk anaknya yang durhaka tenggelam dan binasa. Adapun bekas pecahan kapal itu kemudian berunah menjadi gunung batu yang kemudian dinamakan Gunung Batu Banawa.

Sumber :
http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-mula-gunung-batu-banawa.html

Berwisata ke Bumi Murakata

Pada artikel yang terdahulu kita sudah membahas mengenai Kota Barabai, desa Barikin dan tempat wisata Lok Laga. Pada bagian ini akan kita lanjutkan jalan-jalan kita di Bumi Murakata. Selain yang telah disebutkan, ada lagi yang bisa kita temui di daerah ini.

Air Terjun Rampah Sungai Karuh

Air Terjun Rampah Sungai Karuh merupakan air terjun ternama khususnya di kalangan para penggiat alam. Hal ini disebabkan untuk menuju lokasi tersebut bisa memakan waktu 8 jam perjalanan. Rampah Sungai Karuh terletak di lereng Puncak Halau-Halau. Ketinggian air terjun ini berkisar sekitar 250 meter hingga ke bawah. Air terjun Rampah Sungai Karuh memiliki struktur kemiringan sekitar 75 derajat vertical.

Air Terjun Rampah Salasih

Air terjun Rampah Sulasih memiliki jalur perjalanan yang hampir sama menuju air terjun Rampah Sungai Karuh. Jalur menuju ke Rampah Sulasih lebih pendek dari Rampah Sungai Karuh. Jika perjalanan standar akan memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan.

Pagat, Batu Benawa

Pagat merupakan salah satu tempat wisata alam yang berdekatan dengan kota  Barabai. Pagat ini terletak di kecamatan Batu Benawa. Untuk menuju wilayah ini dari pusat kota memakan waktu kurang lebih 15-20 menit perjalanan. Di lokasi wisata alam Pagat, pengunjung bisa menikmati kesejukan udara alami, mandi di sungai yang airnya jernih, dan melihat pemandangan sekitar wilayah pagat dan Barabai lewat puncak Sarigading.

Puncak Halau-Halau

Pegunungan Meratus yang ada di Kalimantan Selatan memiliki puncak tertinggi yaitu di Gunung Besar. Puncak ini disebut dengan Halau-halau. Keasrian alam yang dimilikinya merupakan nilai plus bagi pengunjung untuk menikmati dan melestarikannya. Puncak Halau-halau menjadi tujuan wisata populer terutama yang suka berkegiatan di alam bebas seperti berkemah dan fotografi flora-fauna. Untuk mencapai puncak mesti berjalan kaki dari desa terakhir yaitu Hinas Kiri. Perdakian ini normalnya memerlukan waktu sekitar 2 hari perjalanan. Walaupun cukup memakan waktu, namun para pendaki selama diperjalanan akan disuguhi air terjun yaitu Rampah Sungai Karuh.

Bersambung ... Jalan Jalan ke Bumi Murakata

Legenda Lok Laga

Menurut hikayat jaman dahulu kala, Lok Laga (Lok berarti teluknya sungai dan Laga yang berarti Naga). Awal cerita berasal dari legenda sebuah kampung di padalaman. Seorang Pangulu adat sedang melaksanakan pernikahan putri tunggal yang merupakan kesayangan sang penghulu adat. Acara pernikahan tersebut melakukan arak-arakan pengantin selama tujuh hari tujuh malam.

Undangan yang disebar dan dihadiri oleh para kepala suku, kepala balai semuanya berdatangan. Dari semuanya yang datang, sebagian ada yang datang dengan menggunkan kuda, ada yang menggunakan Lanting, ada pula yang datang dengan berjalan kaki saja. Mereka yang hadir berasal dari kawasan Baruh (Id: Hutan Rawa), dari seberang lautan, dari gunung dan adapula yang berasal dari perbukitan.

Para undangan yang hadir di acara pernikahan tersebut disuguhi dengan berbagai macam masakan seperti nasi, Lamang dan nasi ketan. Acara tersebut diiringi dan dihibur dengan musik Kurung-Kurung.

Ketika sang Pangantin pria datang, kemudian mereka (penganten pria dan wanita) duduk berdampingan. Mereka duduk bersandarkan bantal dan guci bergambar kembang. Kepala sang penganten pria memakai Laung (topi khas daerah suku Banjar) dengan sebilah Mandau yang ada di pinggang.

Sang penganten wanita memakai Galung yang berhiaskan Mayang dari pohon pinang. Kemudian mereka duduk bersanding di sebuah hiasan berbentuk naga. Sang mempelai mulai mengarungi sungai yang ada di baruh, sekitar rumah penganten. Hingga mereka sampai di liang (Id: bagian sungai yang dalam) yang terdapat di teluk, hiasan berbentuk naga tadi bergoyang.

Ekor sang naga bergerak-gerak dan mulutnya mulai menganga. Lidah naga menjulur dari mulut yang terbuka dan kedua mata membesar seperti orang yang sedang marah. Melihat kejadian itu, cepat-cepat lah sang pawang mencabutkan parang, dan kemudian ia mengayunkan tebasan di bagian kepala sang naga. Naga itupun bercucuran mengeluarkan darah karena kepalanya terluka. Setelah kejadian itu, tempat tersebut dinamakanlah Lok Laga.

Cerita ini diambil dari hikayat yang terdapat pada lagu Banjar "Legenda Lok Laga".

Jalan-Jalan Ke Bumi Murakata

Bumi Murkata adalah sebutan yang sering dipakai untuk mewakili daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Daerah ini terletak di pertengahan dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibu kota kabupaten yaitu Barabai. Berjarak sekitar 160 kilometer dari Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Di daerah kabupaten Hulu Sungai Tengah memiliki corak dan keunikan yang tidak kalah adanya dengan tempat lain. Beberapa hal yang terdapat di kabupaten ini adalah sebagai berikut:

Kota Barabai

Kota Barabai banyak yang dikenal sebagai dengan sebutannya sebagai Kota Apam. Karena di daerah ini cukup banyak para warganya masih melakukan tradisi membuat kue Apam terlebih lagi pada saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha pada sebagiannya.

Karena kue Apam merupakan makanan khas daerah, maka begitu banyak bisa kita temui pada toko yang ada  pinggiran jalan menjajakan makanan ini. Kue Apam yang biasa dijajakan tersebut memiliki tekstur dan bentuk yang tipis dan bulat. Harga yang dutawarkan pun masih terjanggkau untuk berbagai kalangan yaitu sekitar Rp. 5.000 - Rp. 8.000 per bungkus.

Di kota ini selain kita bisa menemukan penjual dan pembuat kue Apam tradisional, kita juga bisa menemukan lauk khas Hulu Sungai yang disebut dengan Pakasam. Pakasam biasa juga disebut dengan Iwak ba Samu (beras yang dimasak kering). Lauk ini berbahan dasar adalah ikan-ikan air tawar seperti Sapat, Papuyu, Haruan (Id: Gabus), dan lain-lain yang dipermentasikan / di awetkan dengan bumbu yang khususnya menggunakan Samu.

Pembuatan lauk ini merupakan tradisi yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat Hulu Sungai Tengah pada khususnya untuk menjaga keawetan ikan dan untuk menghemat konsumsi ikan. Tradisi ini sudah diregenerasikan sebelum jaman perjuangan kemerdekaan.

Kota Barabai ini juga disebut dari masa kolonial Belanda dalam sejarahnya sebagai Bandung van Borneo. Karena di sisi jalan sekitar kota kita bisa menemui pohon-pohon perindang yang cukup banyak seperti halnya yang bisa di temui di kota Bandung, Jawa Barat.

Di kota ini juga terdapat mesjid agung masyarakat Barabai yang bernama Mesjid Ridahussalihin. Mesjid ini merupakan mesjid induk di kota Barabai. Halamannya yang luas dengan dihiasi taman dan pohon-pohon di sekelilingnya menjadikan kita terasa nyaman untuk berkunjung dan bersantai di kawasan tersebut. Selain itu, mesjid ini terletak stategis di pinggir jalan provinsi sehingga mudah untuk ditemukan bagi orang awam. Di sore harinya, mesjid ini biasa dijadikan kaum muslim untuk bersantai dan menunggu shalat magrib.

Kembali ke pusat kota di sore hari akan lebih menyenangkan jika kita menyempatkan bersantai ria untuk bergabung dengan masyarakat yang sering kali menikmati waktu-waktu istirahat sore di pusat kota, yaitu disekitar Lapangan Dwi Warna. Di tempat tersebut berbagai macam dari kalangan masyarakat berkumpul. Ada yang bersama keluarganya, ada yang bersama teman, kekasih dan kelompoknya.

Di sekitar lapangan Dwi Warna ada terdapat perkantoran seperti Kantor Pemerintah Daerah, Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selain itu ada juga Rumah Dinas Kepala Daerah, Sekolah, Taman bermain yang di sisi jalan kita bisa membeli jajanan ringan.

Kumpulan Pengrajin dan Kesenian Barikin

Barikin merupakan daerah yang terdapat di Kecamatan Haruyan. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kerajinan Sapu Ijuk, Kuda Kayu dan juga para seniman Wayang Banjar, Tari Topeng dan Musik Panting.

Sapu yang terbuat dari bulu serat pohon Hanau/Enau (Id: Aren) menjadi ciri khas daerah ini. Kita bisa melihat jika kita menuju kota Barabai dari arah Banjarmasin, di sisi jalan raya begitu banyak penjual sapu dan mainan kuda kayu ini.

Selain kerajinan tradisional ini, di Barikin kita bisa menemukan para seniman wayang kulit, tari topeng dan kesenian musik panting yang merupakan musik tradisional orang Banjar.

Lok Laga

Salah satu aset wisata alam yang ada di kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah tempat wisata Lok Laga. Para pengunjung dapat merasakan keasrian suasana alam dengan berkunjung dan menikmatnya. Menurut legenda masyarakat sekitar, Lok Laga memiliki cerita pra sejarah. Diambil dari cerita rakyat itu sehingga dinamakan Lok Laga. Lok (Banjar) mempunyai arti Sungai dan Laga berasal dari kata Naga. Untuk menuju kawasan wisata alam ini, pengunjung bisa mengambil arah desa Mui, Haruyan dari persimpangan desa Barikin di jalan utama.

Bersambung ... Berwisata ke Bumi Murakata

Top