Top Ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style6

Kepemimpinan Kekuasaan Kerajaan Banjar Masa ke Masa

Perjalanan panjang kisah sejarah kekuasaan dan kepemimpinan yang ada di Kalimantan Bagian Selatan (Banjar - Borneo). Dari sekian sumber-sumber sejarah yang masih ada, beberapa ringkasan masa kepemimpin, kerajaan, kekuasaan dan kejadian singkat di tanah Banjar.
Raja Banjar Surya Kusuma

Berikut ini merupakan daftarnya :

Pra Masuknya Islam

Sebelum Islam, Semi-Historical
NoKeadaan / Kepemimpinan
01Lembu Mangkurat
02Putri Tunjung Buih (fem.)
03Surya Nata I
04Surya Ganggawangsa
05Putri Kalungsu (fem.)
06Sakar Sungsang
07Sukarama
08Pangeran Mangkubumi
09Pangeran Tamanggung

Masuknya dan Pasca Masuknya Islam

Sultan-Sultan Muslim
NoKeadaan / KepemimpinanMasa
01??1386 - c.1520
02Terbentuknya Kerajaan Banjarmasin1387
03Suryan Syahfl. c.1520 - 1540
04Rahmatullahfl. c.1546
05Hidayatullah-
06Marhum Panembahan (Musta'in Bullah)Setelah 1612 - 1642
07Inayatullah1642 - ?
08Saidullah? - 1660
09Amrullah1660 d. c.1700
10Ri'ayatullah1660 - 1663
11Surya Nata II1663 - 1679
12Amrullah (restored)1679 - c.1700
13Tahmid Illah Ic.1700 - 1717
14Panembahan Kusuma Dilaga1717 - 1730
15Hamidullah1730 - 1734
16Tamjid Illah I1734 - 1759 d.1767
17Muhammad Aminullah1759 - 1761
18Sultan Nata (Tahmid Illah II)1761 - 1801
19Sulaiman Saidullah1801 - 1825
20Adam1825 - 1857
21Tamjid Illah II1857 - 1859
22Hidayatullah III1859 - 1860
23Tamjidullah III1860 - 1905
24Antasari1862 dan Selanjutnya
25Muhammad Said1862 - 1875
26Muhammad Seman1862 - 1905
27Negara Netherlands / Belanda1905 - 1942
28Negara Jepang1942 - 1945
29Negara Netherlands / Belanda1945 - 1949
30Negara Kesatuan Republik Indonesia1949 - Sekarang
31Khairul Saleh al-Mutashim Billah (NKRI)10 Dec 2010 - Sekarang

Sumber :
  1. Regnal Cronologies 
  2. Indonesian Traditional State 
  3. Potret Raja Banjar 

Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan.
Original Photo Source : http://s276.photobucket.com/user/enya_2008/media/RumahBanjarBubungantinggi4.jpg.html

Ciri-Ciri

Menurut Tim Depdikbud Kalsel, ciri-cirinya :
  1. Atap Sindang Langit tanpa plafon
  2. Tangga Naik selalu ganjil
  3. Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir

Konstruksi

Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu. Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayu lah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.

Bagian Konstruksi Pokok

Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :
  1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
  2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut anjung.
  3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
  4. Bubungan atap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
  5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.
  6. Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.

Ruangan

Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :
  1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.
  2. Panampik Kacil, yaitu ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
  3. Panampik Tangah yaitu ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.
  4. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.
  5. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
  6. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.
  7. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

Ukuran

Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal. Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda.

Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil. Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain.

Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter. Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan, sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

Tata Ruang dan Kelengkapan
Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi membedakan adanya tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam.
  • Ruang terbuka terdiri dari pelataran atau serambi, yang dibagi lagi menjadi surambi muka dan surambi sambutan.
  • Ruang setengah terbuka diberi pagar rasi disebut Lapangan Pamedangan.
  • Sedangkan ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil), Paluaran (Panampik Basar), Paledangan (Panampik Panangah) yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu (dapur).
Secara ringkas berikut ini akan diuraikan situasi ruang dan kelengkapannya;

1. Surambi

Di depan surambi muka biasanya terdapat lumpangan tempat air untuk membasuh kaki. Pada surambi muka juga terdapat tempat air lainnya untuk pembasuhan pambilasan biasanya berupa guci.

2. Pamedangan

Ruangan ini lantainya lebih tinggi, dikelilingi pagar rasi. Biasanya pada ruang ini terdapat sepasang kursi panjang.

3. Pacira dan Panurunan (Panampik Kacil)


Setelah masuk Pacira akan didapatkan tanggui basar dan tanggui kacil di arah sebelah kiri, sedangkan arah sebelah kanan terdapat pengayuh, dayung, pananjak dan tombak duha. Di sayap kanan ruangan terdapat gayung, sandal dan terompah tergantung di Balabat Panurunan. Sebagai perlengkapan penerangan dalam ruangan ini terdapat dua buah lampu gantung.

4. Paluaran (Panampik Basar)

Ruangan ini cukup besar digunakan untuk berbagai kegiatan keluarga dan kemasyarakatan apabila masih kekurangan ruang Tawing Halat yang memisahkan dengan Palidangan dapat dibuka. Di bagian tengah di depan Tawing Halat ini terletak bufet. Di atasnya agak menyamping ke kiri dan ke kanan terdapat gantungan tanduk rusa. Di tengah ruangan terdapat dua buah lampu gantung. Lantainya diberi lampit dan kelengkapan bergerak seperti paludahan, kapit dan gelas, parapen, rehal.

5. Palidangan (Panampik Panangah)

Ruangan ini terdiri dari Paledangan Dalam dan Anjung Kiwa - Anjung Kanan. Fungsi ruang sama dengan Paluaran, namun biasanya diperuntukkan bagi kaum wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari besar, lemari buta, kanap, kendi. Lantainya diberi hambal sebagai alas duduk.

6. Anjung Kanan - Anjung Kiwa

Ruang Anjung Kanan merupakan ruang istirahat yang dilengkapi pula dengan alat rias dan perlengkapan ibadah. Sedangkan Anjung Kiwa merupakan tempat melahirkan dan tempat merawat jenazah. Di sini juga di beri perlengkapan seperti lemari, ranjang, meja dan lain-lain.

7. Padu (Id: Dapur)

Di samping untuk tempat perlengkapan masak dan kegiatannya, ruang padu ini juga digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Perlengkapan umum yang terdapat di dalamnya adalah dapur, rak dapur, pambanyuan, lemari, tajau, lampit dan ayunan anak.

Bentuk arsitektur dan pembagian ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi mempunyai kesamaan prinsip antara satu dengan lainnya, dengan perbedaan-perbedaan kecil yang tidak berarti. Dari sini dapat dilihat bahwa rumah tradisional Bubungan Tinggi tersebut mempunyai keterikatan dengan nilai tradisional masyarakatnya.

Jadi meskipun pada awalnya bentuk tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan fungsi dan adaptasi terhadap lingkungan, tetapi karena sifatnya yang berulang-ulang kemudian dari bentuk fungsional tersebut berubah menjadi bentuk yang tradisional.

Berwisata ke Bumi Murakata

Pada artikel yang terdahulu kita sudah membahas mengenai Kota Barabai, desa Barikin dan tempat wisata Lok Laga. Pada bagian ini akan kita lanjutkan jalan-jalan kita di Bumi Murakata. Selain yang telah disebutkan, ada lagi yang bisa kita temui di daerah ini.

Air Terjun Rampah Sungai Karuh

Air Terjun Rampah Sungai Karuh merupakan air terjun ternama khususnya di kalangan para penggiat alam. Hal ini disebabkan untuk menuju lokasi tersebut bisa memakan waktu 8 jam perjalanan. Rampah Sungai Karuh terletak di lereng Puncak Halau-Halau. Ketinggian air terjun ini berkisar sekitar 250 meter hingga ke bawah. Air terjun Rampah Sungai Karuh memiliki struktur kemiringan sekitar 75 derajat vertical.

Air Terjun Rampah Salasih

Air terjun Rampah Sulasih memiliki jalur perjalanan yang hampir sama menuju air terjun Rampah Sungai Karuh. Jalur menuju ke Rampah Sulasih lebih pendek dari Rampah Sungai Karuh. Jika perjalanan standar akan memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan.

Pagat, Batu Benawa

Pagat merupakan salah satu tempat wisata alam yang berdekatan dengan kota  Barabai. Pagat ini terletak di kecamatan Batu Benawa. Untuk menuju wilayah ini dari pusat kota memakan waktu kurang lebih 15-20 menit perjalanan. Di lokasi wisata alam Pagat, pengunjung bisa menikmati kesejukan udara alami, mandi di sungai yang airnya jernih, dan melihat pemandangan sekitar wilayah pagat dan Barabai lewat puncak Sarigading.

Puncak Halau-Halau

Pegunungan Meratus yang ada di Kalimantan Selatan memiliki puncak tertinggi yaitu di Gunung Besar. Puncak ini disebut dengan Halau-halau. Keasrian alam yang dimilikinya merupakan nilai plus bagi pengunjung untuk menikmati dan melestarikannya. Puncak Halau-halau menjadi tujuan wisata populer terutama yang suka berkegiatan di alam bebas seperti berkemah dan fotografi flora-fauna. Untuk mencapai puncak mesti berjalan kaki dari desa terakhir yaitu Hinas Kiri. Perdakian ini normalnya memerlukan waktu sekitar 2 hari perjalanan. Walaupun cukup memakan waktu, namun para pendaki selama diperjalanan akan disuguhi air terjun yaitu Rampah Sungai Karuh.

Bersambung ... Jalan Jalan ke Bumi Murakata

Jalan-Jalan Ke Bumi Murakata

Bumi Murkata adalah sebutan yang sering dipakai untuk mewakili daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Daerah ini terletak di pertengahan dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan ibu kota kabupaten yaitu Barabai. Berjarak sekitar 160 kilometer dari Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Di daerah kabupaten Hulu Sungai Tengah memiliki corak dan keunikan yang tidak kalah adanya dengan tempat lain. Beberapa hal yang terdapat di kabupaten ini adalah sebagai berikut:

Kota Barabai

Kota Barabai banyak yang dikenal sebagai dengan sebutannya sebagai Kota Apam. Karena di daerah ini cukup banyak para warganya masih melakukan tradisi membuat kue Apam terlebih lagi pada saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha pada sebagiannya.

Karena kue Apam merupakan makanan khas daerah, maka begitu banyak bisa kita temui pada toko yang ada  pinggiran jalan menjajakan makanan ini. Kue Apam yang biasa dijajakan tersebut memiliki tekstur dan bentuk yang tipis dan bulat. Harga yang dutawarkan pun masih terjanggkau untuk berbagai kalangan yaitu sekitar Rp. 5.000 - Rp. 8.000 per bungkus.

Di kota ini selain kita bisa menemukan penjual dan pembuat kue Apam tradisional, kita juga bisa menemukan lauk khas Hulu Sungai yang disebut dengan Pakasam. Pakasam biasa juga disebut dengan Iwak ba Samu (beras yang dimasak kering). Lauk ini berbahan dasar adalah ikan-ikan air tawar seperti Sapat, Papuyu, Haruan (Id: Gabus), dan lain-lain yang dipermentasikan / di awetkan dengan bumbu yang khususnya menggunakan Samu.

Pembuatan lauk ini merupakan tradisi yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat Hulu Sungai Tengah pada khususnya untuk menjaga keawetan ikan dan untuk menghemat konsumsi ikan. Tradisi ini sudah diregenerasikan sebelum jaman perjuangan kemerdekaan.

Kota Barabai ini juga disebut dari masa kolonial Belanda dalam sejarahnya sebagai Bandung van Borneo. Karena di sisi jalan sekitar kota kita bisa menemui pohon-pohon perindang yang cukup banyak seperti halnya yang bisa di temui di kota Bandung, Jawa Barat.

Di kota ini juga terdapat mesjid agung masyarakat Barabai yang bernama Mesjid Ridahussalihin. Mesjid ini merupakan mesjid induk di kota Barabai. Halamannya yang luas dengan dihiasi taman dan pohon-pohon di sekelilingnya menjadikan kita terasa nyaman untuk berkunjung dan bersantai di kawasan tersebut. Selain itu, mesjid ini terletak stategis di pinggir jalan provinsi sehingga mudah untuk ditemukan bagi orang awam. Di sore harinya, mesjid ini biasa dijadikan kaum muslim untuk bersantai dan menunggu shalat magrib.

Kembali ke pusat kota di sore hari akan lebih menyenangkan jika kita menyempatkan bersantai ria untuk bergabung dengan masyarakat yang sering kali menikmati waktu-waktu istirahat sore di pusat kota, yaitu disekitar Lapangan Dwi Warna. Di tempat tersebut berbagai macam dari kalangan masyarakat berkumpul. Ada yang bersama keluarganya, ada yang bersama teman, kekasih dan kelompoknya.

Di sekitar lapangan Dwi Warna ada terdapat perkantoran seperti Kantor Pemerintah Daerah, Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selain itu ada juga Rumah Dinas Kepala Daerah, Sekolah, Taman bermain yang di sisi jalan kita bisa membeli jajanan ringan.

Kumpulan Pengrajin dan Kesenian Barikin

Barikin merupakan daerah yang terdapat di Kecamatan Haruyan. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kerajinan Sapu Ijuk, Kuda Kayu dan juga para seniman Wayang Banjar, Tari Topeng dan Musik Panting.

Sapu yang terbuat dari bulu serat pohon Hanau/Enau (Id: Aren) menjadi ciri khas daerah ini. Kita bisa melihat jika kita menuju kota Barabai dari arah Banjarmasin, di sisi jalan raya begitu banyak penjual sapu dan mainan kuda kayu ini.

Selain kerajinan tradisional ini, di Barikin kita bisa menemukan para seniman wayang kulit, tari topeng dan kesenian musik panting yang merupakan musik tradisional orang Banjar.

Lok Laga

Salah satu aset wisata alam yang ada di kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah tempat wisata Lok Laga. Para pengunjung dapat merasakan keasrian suasana alam dengan berkunjung dan menikmatnya. Menurut legenda masyarakat sekitar, Lok Laga memiliki cerita pra sejarah. Diambil dari cerita rakyat itu sehingga dinamakan Lok Laga. Lok (Banjar) mempunyai arti Sungai dan Laga berasal dari kata Naga. Untuk menuju kawasan wisata alam ini, pengunjung bisa mengambil arah desa Mui, Haruyan dari persimpangan desa Barikin di jalan utama.

Bersambung ... Berwisata ke Bumi Murakata

Top