Top Ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style6

Cerita Burung Ruai Berasal

Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas, tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan.
Sumber Ilustrasi : http://ceritarakyatnusantara.com

Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama ”Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan ”sakti.

Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau si bungsu. Si bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak - kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan si bungsu, keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain - main saja.

Dengan kedua latar belakang inilah, maka sang ayah ( raja ) menjadi pilih kasih terhadap putri - putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak si bungsu dimarah oleh ayahnya, sedangkan si bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah maka keenam kakak si bungsu menjadi dendam, bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri, maka bila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada si bungsu dengan memukul habis - habisan tanpa ada rasa kasihan sehingga tubuh si bungsu menjadi kebiru - biruan dan karena takut dipukuli lagi si bungsu menjadi takut dengan kakaknya.

Untuk itu segala hal yang diperintahkan kakaknya mau tidak mau sibungsu harus menurut seperti : mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, sibungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan si bungsu sendirian sementara ke enam orang kakaknya hanya bersenda gurau saja.

Sekali waktu pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu terhadap sibungsu diketahui oleh sang raja ( ayah ) dengan melihat badan ( tubuh ) si bungsu yang biru karena habis dipukul tetapi takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah, dan bila sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa si bungsu kepada keenam kakaknya maka keenam orang kakaknya tersebut membuat alasan - alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa - apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan sibungsu biru karena sibungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percayanya sang ayah terhadap cerita dari sang kakak maka sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud.

Begitulah kehidupan si bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya, meskipun demikian sibungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya, kadang - kadang si bungsu menangis tersedu - sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan.

Setelah mengalami hari - hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan diantara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak ( putrinya ) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pulalah diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada si bungsu, yang penting bila sang raja tidak ada di tempat, maka masalah - masalah yang berhubungan dengan kerajaan ( pemerintahan ) harus mohon ( minta ) petunjuk terlebih dahulu dari si bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing - masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Serta timbul dalam hati masing - masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada si bungsu bukan kepada mereka.

Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka pada keesokan harinya berangkatlah pasukan sang raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya.

Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Maka tibalah saatnya yaitu saat-saat yang dinantikan oleh keenam kakaknya si bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya yaitu ingin memusnahkan si bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu si bungsu harus dibunuh. Tanda-tanda ini diketahui oleh si bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari.

Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya dan rencanapun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil si bungsu, apakah yang dilakukannya ?. Ternyata keenam kakanya mengajak si bungsu untuk mencari ikan ( menangguk ) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur ( oval ). Karena sangat gembira bahwa kakaknya mau berteman lagi dengannya, lalu si bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap si bungsu, tetapi si bungsu tidak menduga hal itu sama sekali.

Tanpa berpikir panjang lagi maka berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu, dengan masing - masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju ( lokasi menangguk ), yaitu gua batu, si bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua, baru diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, si bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya.

Si bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua, sedangkan keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya si bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak - bahak sebab si bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat si bungsu menjadi betul - betul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa si bungsu dan pada akhirnya si bungsupun tersesat.

Merasa bahwa si bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, maka tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut dan duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya, si bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satupun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang kesana kemari.

Bagaimana nasib si bungsu ? tanpa terasa si bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya, namun ia masih belum bisa untuk pulang, tepatnya pada hari ketujuh si bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka - sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu, suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut, si bungsupun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya, maka pada saat itu dengan disertai bunyi yang menggelegar muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan si bungsu, lalu si bungsupun terkejut melihatnya, tak lama kemudian kakek itu berkata, ” Sedang apa kamu disini cucuku ? ”, lalu si bungsupun menjawab, ” Hamba ditinggalkan oleh kakak - kakak hamba, kek ! ”, maka si bungsupun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar, tanpa diduga-duga pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut titik-titik air mata si bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya, kemudian si bungsupun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, ” Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama ” Burung Ruai, apabila aku telah hilang dari pandanganmu maka eramlah telur-telur itu supaya jadi burung - burung sebagai temanmu ! ”. Kemudian secara spontanitas si bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek ... kwek ... kwek ... kwek .... kwek, Bersamaan dengan itu kakek sakti itu menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal si bungsu dahulu, dengan bersuara kwek ... kwek .... kwek ... kwek .... kwek, Mereka menyaksikan kakak - kakak si bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh si bungsu.

Sumber : http://sambas.go.id/cerita-rakyat/1190-asal-mula-terjadinya-burung-ruai.html

Tradisi Manginang yang Mulai Pudar


Dahulu, ketika nenek saya masih hidup. Sesekali dalam seminggu paling tidak ia mengunyah sesuatu yang membuat saya sendiri bingung pada waktu itu. Ia duduk manis sambil Mahambit (membuat atap dari daun Rumbia). Beberapa lama kemudian mulutnya mulai terlihat cairan merah. Darah keluar, anggap saya. Ia pun tak lama memuntahkan kunyahan yang sudah berwarna kemerah-merahan itu. Terkejut tentu.
Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html

Lalu saya bertanya kepada beliau :”Kanapa ni, muntung pian? (ada apa dengan mulut nenek?)”, seraya ia terseyum dan berkata dengan gumaman mulut berisi: “Ngini nagarannya manginang cu ai. (Ini namanya Manginang”. Kemudian ia melanjutkan lagi hambitan-nya.

Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html
Tradisi orang-orang yang pernah hidup dari jaman dulu memang unik dan penuh hikmah yang kadang kala masyarakat sekarang tidak pernah terpikirkan atau belum sampai memikirkan sejauh itu. Dengan kemajuannya jaman sekarang ini tradisi masyarakat untuk Manginang tersebut mulai luntur. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang diantaranya adalah :
  • Perubahan pola pikir
  • Gaya hidup masyarakat modern
  • Tradisi lama dianggap kurang memberikan pendidikan.
  • Anggapan Kono
  • Anggapan Kurang bersih
  • Rasa Malu dan ego
  • Dan sebagainya.
Manginang adalah kegiatan mengunyah biji pinang beserta rempah-rempah lain. Selambar sirih dioles kapur, dicampur gambir, ditambah pinang dijadikan kinangan. Kinangan dimakan disebut "manginang". Manginang menjadi suatu kebiasaan masyarakat yang menjadi budaya masyarakat Banjar, terutama kaum wanita yang sudah tua maupun para gadis yang memasuki masa remaja yang dilakukan secara turun-temurun.Rempah-rempah tersebut antara lain :
  1. Daun sirih
  2. Cengkeh
  3. Kapur makan
  4. Gambir
  5. Kacip
Beberapa pendapat tentang manfaat oleh orang yang masih memakai tradisi manginang adalah :
Sumber Asal : http://rumahantik53.blogspot.com/2012/12/kinanganwadah-seupah-kuningan.html
  1. Menginang menguatkan gigi dan gusi.
  2. Menginang untuk menjaga dan merawat kesehatan mulut dan gigi juga digunakan sebagai pengganti kebiasaan merokok
  3. Mencegah bau mulut
  4. Sepah kucuran pinang mengandung bahan anti-biotik berfungsi untuk mengobati luka

Sisi Kearifan Orang Kalimantan Terhadap Alam


Sebagian besar masyarakat yang berkembang dan hidup di Kalimantan memiliki aktifitas yang lebih ke arah harmonisasi dengan alam dan lingkungan sekitar. Mungkin sebagian orang menganggap kehidupan masyarakat Kalimantan yang masih bergelut di lahan tergolong belum makmur. Itu memang benar jika sudut pandang kemakmuran dari materi, uang dan gaya hidup modernis.

Akan tetapi jika memandang kemakmuran masyarakat Kalimantan dari kecukupan dan keharmonisan mereka hidup di lingkungannya, masyarakat Kalimantan memiliki kekayaan yang berlimpah. Selain itu pula, masyarakat merasa damai dan tentram dengan memegang tradisi kearifan terhadap alam. Hal ini bisa kita lihat dari profesi yang berbagai macam, sebagian besarnya masyarakat yang hidup di daerah tetap melakukan aktifitas pertanian, perkebunan dan perikanan.

Beberapa kearifian masyarakat Kalimantan yang bisa kita contoh dan bangun tradisi tersebut diantaranya adalah :

Tradisi Membangun Rumah

Dalam pembangunan rumah, masyarakat Kalimantan lebih mengutamakan penggunaan kayu dan bahan-bahan yang terbuat dari alam. Pembuatan rumah dengan bahan-bahan alam sangat lah cocok dan sesuai dengan iklim, georafis dan ekosistem yang pada dasarnya Kalimantan merupakan tempat beriklim tropis.

Dari berbagai macam jenis rumah yang dibuat oleh arsitek-arsitek tradisional seperti rumah Bubungan Tinggi, Rumah, Betang, Rumah Panggung dan lain-lainnya adalah metode pembangunan yang kaya akan kearifian masyarakat terhadap alam. Rumah-rumah jenis ini dibangun dengan sistem Pondasi Kaki Ayam (panggung), yang mana hal tersebut membuat sirkulasi udara yang bagus, menghindari pemadatan tanah yang dapat merusak resapan air bawah tanah.

Sebagian pula dari bentuk-bentuk rumah yang menggunakan pondasi tersebut, di bagian bawahnya sering kali mereka manfaatkan untuk mengembang-biakan binatang peliharaan (ayam, itik, babi). Ada pula yang dibangun dengan pondasi lebih tinggi, bagian bawah rumah dibuat menjadi tempat santai, tempat bermain anak-anak, tempat menyimpan alat-alat pertanian atau perlengkapan menangkap ikan. Karena dipergunakan bagian bawah dari rumah, maka pemilik rumah menjadi senang untuk membersihkannya agar tetap layak dipergunakan. Kearifian Ini dimaksudkan lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan memberikan keuntungan yang beragam.

Bagian atap dibuat dari berbagai bahan. Ada yang beratapkan Sirap (lembaran kayu Ulin), daun Rumbia, Paring/Haur (Bambu). Atap-atap seperti itu memiliki warna agak gelap dan kalem, sehingga (dapat menyerap) tidak memantulkan radiasi dan panas matahari yang dapat menjadi penyumbang peningkatan efek Rumah Kaca dan Global Warming. Pada bagian dalamnya pun tidak menjadi panas dan menggerahkan ketika kita berada di dalam rumah.

Tidak seperti bangunan-bangunan modern yang kita temukan saat ini. Kebanyakan dibangun dengan pondasi pemandatan tanah. Sehingga resapan air dipermukaan dan sungai bawah tanah menjadi terganggu bahkan tertutup. Tentu itu tidak mengherankan jika didaerah perkotaan yang padat akan bangunan beton mendapatkan banjir yang tidak terkendali pada musim penghujan.

Tradisi Bercocok Tanam

Tradisi bercocok tanam meliputi bertani, berkebun dan membuat pekarangan. Dalam istilah masyarakat di Kalimantan Selatan khususnya bertani memiliki bahasa tersendiri seperti Manuggal dan Bahuma.

Manugal merupakan metode tradisional yang kreatif untuk mengelola dan mengolah pertanian khususnya padi di lereng-lereng bukit atau gunung. Keadaan dimana suplai air lebih menitik beratkan pada musim dan curah hujan. Ini sama halnya dengan pertanian di lahan kering. Manugal umumnya dilakukan oleh masyarakat adat Dayak dan melalui proses spritual untuk meminta berkah lewat aruh-aruh adat. Aruh (pesta) adat tersebut dilakukan secara bertahap dari sebelum pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen dilakukan. Di Kalimantan Selatan, Aruh seperti itu disebut dengan istilah Aruh Bamula, Aruh Basambu, Aruh Bawanang, Aruh Ganal.

Kearifan pada manugal adalah ketika setelah aruh dilakukan, maka masyarakat dilarang untuk menebang, membunuh, atau merusak tumbuhan beserta binatang yang hidup disekitar mereka. Hal ini dipercaya untuk menjaga keseimbangan alam saat lahan menjadi gundul. Selain itu juga, setalah proses manugal selesai, lahan yang tidak dipergunakan lagi untuk pertanian pagi, dimanfaatkan untuk berkebun dan menanam pohon kembali.

Sedangkan pada pertanian Bahuma, metode yang dipergunakan tentulah berbeda. Karena Bahuma dilakukan pada lahan basah dan berair seperti rawa. Setiap tahunnya, masyarakat bisa mengerjakan humaan 2 kali. Sistem pengairan yang dipergunakan adalah meneruskan air mengalir dari lahan satu ke lahan yang lain. Mengalirnya air ini lebih lambat karena struktur kontur tanah agak datar. Sehingga air sebagian besarnya tetap menggenangi lahan dan tanah tetap mendapatkan pasokan cukup air.

Tradisi Menangkap Ikan

Tradisi yang masih pula bertahan dan arif terhadap lingkungan adalah motede menangkap ikan. Beberapa metode dalam penangkapan ikan oleh masyarakat Kalimantan.

Dengan menggunakan Tangan Saja

Di Kalimantan Selatan menangkap ikan dengan menggunakan metode tangan disebut cara penangkapan Mangacal. Metode ini memang unik, karena kita lebih mengandalkan keahlian tangan dan juga keberanian masuk ke dalam air.

Dengan menggunakan Alat dan Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Maunjun, merupakan metode menangkap ikan yang paling selektif. maunjung adalah cara penangkapan dengan menggunakan alat tangkap yaitu Unjun (Id: Pancing). Ikan yan dipancing dibatasi penangkapannya sehingga sebagian besar ikan akan tetap hidup dan berkembang-biak secara alami di ekosistemnya.
  2. Mamair, merupakan metode menangkap ikan yang hampir mirip dengan manujun karena juga menggunakan alat pancing. Namun perbedaannya dengan maunjun adalah mamair metode yang dipergunakan untuk menangkap jenis ikan yang lebih besar seperti Haruan dan Tauman.
  3. Malunta, merupakan metode menangkap ikan dengan menggunakan alat yang disebut di daerah lokal dengan lunta. Lunta adalah jaring-jaring yang berbentuk kerucut. Pada bagian yang lebih besar ujungnya dipasangi dengan cincin-cincin pemberat dan pada bagian ujung atas dipasangi dengan tali yang lebih besar guna sebagai poros penarikan oleh penangkap ikan. Penangkapan dengan metode malunta kurang selektif, karena ia akan menangkap ikan-ikan dan benda lainnya yang masuk dalam ukuran besar ruang tali pada jaring tersebut.
  4. Mahancau, merupakan metode penangkapan ikan dengan menggunakan alat yang disebut dengan Hancau. Alat ini juga merupakan jaring yang lebih kecil dan berbentuk persegi empat. Tiap ujung segi tersebut diikatkan pada bilahan bambu dan membentuk pertemuan silang ditengahnya. Kemudian bagian tengah yang bertemu tersebut dipasang tali yang diikatkan pada batang bambu. Penggunaan hancau pada umumnya untuk menangkap ikan di ruang yang agak luas dan tidak banyak raba (Id: Sampah Organik Sungai).
  5. Mambandan, merupakan metode penangkapan ikan yang unik karena menggunakan media lain agar bisa mendapatkan ikan. Media lain tersebut adalah anak bebek. Mambandan ditujukan untuk menangkap ikan yang besar (Induk). Anak bebek tersebut adalah sebagai pemicu (umpan) induk ikan yang lapar. Anak bebek diikat dan dicelup-celupkan di daerah yang memungkinkan ada induk ikan.

Dengan menggunakan Alat Tanpa Dijaga

Penangkapan ikan dengan alat yang dijaga antara lain :
  1. Mambanjur, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat pancing kecil yang terdiri dari kail, tali nilon dan bilahan bambu atau parupuk (tumbuhan rawa kering). Panjangnya alat yang disebut Banjur ini kurang lebih 100cm. Alat pancing kecil ini diletakkan dan disebar dibeberapa titik yang memungkinkan adanya ikan. Metode ini bersahabat lingkungan, karena dibiarkan begitu saja dan tidak mengganggu ketenangan ekosistem.
  2. Maringgi, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat yang disebut dengan ringgi. Ringgi berbentuk persegi jaring kecil yang diletakkan dan dibiarkan begitu saja di alur-alur kali (sungai kecil di sawah, depan rumah). Ringgi ini akan menangkap ikan ikan kecil seperti Sapat, Papuyu, Sanggiringan dan jenis ikan kecil lainnya.
  3. Malukah, merupakan metode penangkapan ikan dengan alat bantu Lukah yang berbentuk seperti rudal. Lukah dibuat dari bilahan-bilahan bambu dan dirangkai dengan menggunakan tali atau rotan sehingga membentuk seperti pen atau rudal. Pada bagian belakang itu dibuat terbuka dan bagian depannya ditutup dengan menggunakan rumput atau bekas sabun colek. Di bagian dalamnya dipasang kerucut-kerucut jalinan bambu agar ikan yang masuk tidak bisa keluar kembali.
Dari kesekian banyaknya metode untuk mendapatkan ikan di sungai khususnya, metode di atas sangat ramah dengan ekosistem dan lingkungan. Karena penangkapan pada ikan hanya bersifat selektif pada ikan-ikan tertentu tidak seperti putas yang sangat membahayakan perkembang-biakan ikan. Sehingga bibit, anak dan ikan-ikan lainnya bisa tetap hidup serta berkembang biak di lingkungan mereka.

Peningkatan Kualitas Pariwisata Daerah

Pariwisata merupakan salah satu cara pengembangan daerah menjadi lebih baik. Pariwisata membawa berbagai keuntungan yang banyak bagi daerah dan warganya. Baik itu secara langsung ataupun melalui proses yang panjang.

Untuk meningkatkan nilai jual daerah dengan aset dan potensi wisata yang perlu lah tentunya mendapatkan perhatian khusus dari berbagai lapisan termasuk didalamnya masyarakat itu sendiri, pemerintah sebagai penggerak, para penggiat sebagai pemantau lapangan dan masukan-masukan tentunya akan juga dapat membantu meningkatkannya.

Memberikan Pemahaman kepada Masyarakat

Dalam persaingannya (pariwisata) dengan bidang lain sangat lah kompetitif seiringin terbukanya jalur internasional yang memberikan dampak postif dan negatif yang kuat pada perkembangan negara. Kepariwisataan perlu didukung perkembangnya oleh berbagai pihak terutama masyarakat daerah itu sendiri dan pemerintah daerah sebagai pemegang kekuasaan daerah.

Kepariwisataan bisa menjadi aset dan modal untuk peningkatan kualitas daerah. Baik peningkatan mutu pengolahan produk perdagangan, peningkatan mutu pendidikan, pengkatan pendapatan daerah, dan lain-lainnya. Akan tetapi untuk mencapai tujuan pariwisata, pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait dengan kepariwisataan perlu memberi pemahaman kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana pariwisata itu, seberapa banyak memeberikan keuntungan kepada masyarakat dan daerah.

Masyarakat yang sudah sadar pariwisata akan sendirinya termotivasi untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di lingkungan mereka. Hal ini akan terlihat di dalam kehidupan masyarakat yang welcome terhadap pengunjung/pendatang. Situasi masyarakat yang bisa mencapai "welcome" tersebut tidak hanya terkait dengan sambutan hangat masyarakat tapi juga disana terkandung "friendly", layanan umum yang bagus, transparansi layanan serta tersedianya daya tarik daerah yang berbentuk fisik (tempat, sarana prasarana, kekuatan budaya) yang semuanya mesti lah unik dan menarik.

Mendukung Pengelolaan Tempat Wisata

Untuk meningkatkan kualitas pariwisata, tentu perlu dukungan dari berbagai pihak. Segala bentuk dukungan sudah semestinya lah diperlukan dalam hal pengelolaan tempat yang memiliki potensi atau sudah menjadi lokasi pariwisata. Bentuk dukungan yang dimaksud bisa seperti :
1. Dukungan pembuatan fasilitas
2. Dukungan pelatihan peningkatan layanan dan kinerja
3. Dukungan sosialisasi lokasi wisata

Memberikan Kesempatan

Hal yang juga penting dalam peningkatan kualitas pariwisata adalah dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengembangkan daerah yang mereka anggap memiliki potensi pariwisata. Kesempatan merupakan lahan basah guna memperkaya potensi dan kawasan wisata di daerah. Masyarakat yang sudah memiliki inisiatif, inovasi, keinginan untuk membangun kawasan wisata secara mandiri merupakan nilai plus bagi pemerintah daerahnya. Karena motivasi dari dalam masyarakat sudah dimiliki oleh mereka ini, walaupun nantinya tetap perlu dibina dan diberi bimbingan agar kepariwisataan daerah memiliki ukuran dan standar.

Mengadakan Penelitian, Pengembangan dan Latihan

Sebagian besar kualitas yang meningkat dipengaruhi oleh adanya kegiatan-kegiatan penelitian terhadap kelebihan dan kekurangan kualitas pariwisata daerah tersebut yang kemudian dilakukan kegiatan pengembangan dan perbaikan. Selain pemenuhan kualitas dan kuantitas dari bentuk fisik (sarana dan prasarana) juga perlu diimbangi dengan pelatihan-pelatihan para pengelola kawasan wisata dan masyarakat. Beberapa pelatihan-pelatihan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pariwisata antara lain :

1. Pelatihan Bahasa Asing

Bahasa asing yang mana sekarang ini sudah banyak masuk ke dalam bahasa keseharian kita merupakan modal untuk mendapatkan kualitas kepariwisataan daerah yang bernilai internasional. Bahasa-bahasa asing yang perlu dikembangkan di daerah bisa seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Itali, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Arab, Bahasa Cina, dan lain-lainnya. Bahasa-bahasa tersebut merupakan media komunikasi yang diperlukan ketika menjalin hubungan dan penginformasian kepada masyarakat dunia. Walaupun perlu dikembangkan bahasa asing di daerah, tetapi juga bahasa lokal mesti tetap dipertahankan dan dikembangkan karena merupakan corak daerah.

2. Pelatihan Standar Layanan

Selain pengembangan dengan pelatihan bahasa asing, tentu tidak kita tepikan bagaimana cara memberikan layanan yang standar bagi para wisatawan. Layanan-layanan yang diperlukan mesti ada standar yang transparan guna mempermudah bagi para wisatawan yang berkunjung. Misalnya di daerah wisata perlu adanya layanan kesehatan sementara, layanan informasi, layanan konsumsi dan sebagainya.

3. Pelatihan Karya dan Kerajian Masyarakat

Di setiap daerah sebagian besarnya memiliki potensi penghasil karya atau kerajinan yang khas daerahnya. Kerajinan-kerajinan ini bisa dalam bentuk makanan khas, produk khas rumah tangga, produk khas adat dan lain-lain. Potensi karya ini akan menjadi dukungan kualitas pariwisata di daerah. Karena kebanyakan dari pelancong mencari sesuatu yang unik di daerah yang mereka kunjungi.

Sosialisasi Online dan Offline

Sosialisasi atau memperkenalkan citra baik terhadap masyarakat umum dalam peningkatan kualitas pariwisata bisa dilakukan secara online dan juga offline. Sosialisasi secara online sekarang ini sudah banyak cara yang diantaranya adalah pembuatan website, blog dan sosial media serta kontak informasi melalui email yang tercakup dalam pengiinformasi melalui internet, telepon, televisi, radio. Penginformasian melalui jaringan online tersebut memberikan efek peningkatan yang sangat signifikan, karena kebanyakan para pengunjung dari luar daerah berminat dari informasi yang disajikan cukup memadai.

Selain itu pula, sosialisasi perlu juga dilakukan secara offline dengan memaksimalkan informasi lewat media masa (surat kabar dan majalah), brosur, buku petunjuk dan spanduk/baliho.

Pembentukan Kata dalam Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bahasa persatuan daerah bagi warga Kalimantan Selatan. Bahasa ini dipergunakan dalam kehidupan keseharian seperti berbelanja, bergaul, berbicara santai dan lain-lain yang semua itu merupakan cara yang komunikatif dan sering dipergunakan oleh sesama warga Kalimantan Selatan khususnya.

Secara kebahasaan dan historikal, Bahasa Banjar memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan pembentukan Bahasa Indonesia (Bahasa Nasional) berasal dari rumpun Bahasa Melayu juga selayaknya Bahasa Banjar. Sehingga sedikit banyaknya Bahasa Melayu, Bahasa Banjar dan Bahasa Indonesia memiliki hubungan sejarah dan perkembangan yang terkait.

Bahasa Banjar akan lebih mudah dipelajari apabila pengguna bahasa pernah atau biasa mempergunakan salah satu bahasa lainya yang disebukan di atas (Indonesia atau Melayu). Karena kosa kata yang terdapat di antara ketiga bahasa tersebut memiliki kesaaman yang cukup banyak dan memiliki sedikit perbedaan.

Kesamaan tersebut pada umumnya terjadi pada jenis kata kerja, kata benda, sebagian kata sifat dan sebagainya. Dalam perbedaannya adalah pada kata kerja Bahasa Banjar penggunaan huruf /E/ dalam imbuhan aktif (Me atau Ber) akan berubah menjadi huruf /A/ dan huruf /R/ akan luntur. Sebagai contoh Berladang (Id) menjadi Baladang (Bj). Membaca (Id) menjadi Mambaca (Bj).

Dalam proses perkembangan bahasa termasuk Bahasa Banjar ada beberapa pembentukan kata :

Branding

Istilah Branding saya perkenalkan dan gunakan untuk pembentukan kata baru dalam Bahasa Banjar yaitu pemakaian/penyebutan dengan kata yang berasal dari merek dagang. Contoh dalam Bahasa Banjar :
  • Honda (Merek) : Ba-Hunda (Orang Banjar Hulu Sungai menyebutnya untuk sepeda motor pada umumnya).
  • Sing Saw (Merek) : Sinsu - Ma-nyinsu (Alat Pemotong Batang Pohon).
  • Dragon (Merek) : Dragun (Alat Pompa Air)
  • Sunlight (Merek) : Sunlih (Cairan untuk mencuci)
  • Swalow (Merek) : Sualau (Alas Kaki/Sendal)
  • dan lain-lain
Beberapa kosa kata yang dibentuk dari proses Branding sebagianya masih dipergunakan dalam Bahasa Banjar. Akan tetapi hal ini lebih banyak dipergunakan oleh orang-orang tua.

Afiksasi

Afikasasi adalah pembentukan kata baru dengan penambahan Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) pada kata dasar. Contoh dalam Bahasa Banjar
  • /jalan/ menjadi /ba-jalan/ - /ba-jalan-an/
  • /makan/ menjadi /makan-an/ - /ma-makan/ - /ba-ma-makan/

Reduplikasi

Reduplikasi adalah pembentukan kata baru dengan pengulangan kata dasar sehingga menimbulkan makna dan kata baru. Dalam Bahasa Banjar sebagian reduplikasi biasanya dibentuk dari kata dasar yang sebagiannya hanya diambil pada suku kata pertama dan atau dikombinasikan dengan pembentukan kata afiksasi. Sebagai contoh :
  • /motor/ menjadi /ba-mo-motor-an/ - /mo-motor-an/
  • /kucing/ menjadi /ba-ku-kucing-an/ - /ba-ku-kucing-an/
Pembentukan kata dengan cara reduplikasi di atas menghasilkan makna baru yang umumnya memiliki arti menyerupai. Selain itu pula ada yang memiliki makna jamak (atau dikerjakan bersama-sama).
  • /masak/ menjadi /ba-masak-an/ - /ba-ma-masak-an/
  • /rumah/ menjadi /ba-rumah-an/ - /ba-ru-rumah-an/

Translasi

Translasi adalah pembentukan kata baru dengan cara penerjemahan dari bahasa lain. Sebagai contoh dari translasi adalah :
  • /cable/ menjadi /kabel/
  • /avocado/ menjadi /alpukat/
  • /apple/ menjadi /apel/
  • /computer/ menjadi /komputer/

Peminjaman Kata

Pembentukan kata dengan proses peminjaman dari bahasa lain yang kemudian dipergunakan dengan pengucapan yang sama atau berbeda dalam Bahasa Banjar. Sebagai contoh dari translasi adalah :
  • Handphone
  • Laptop
  • Kitab
  • Ustazd
  • Baterai

Komposisi

Istilah komposisi disebut juga dengan penggabungan yaitu pembentukan kata baru /frase dengan cara menggabungkan beberapa kata. Kompisisi ada yang menggabungkan antara morfem yang bebas dengan morfem bebas lainnya dan adapula yang menggabung dengan morfem yang terikat.

Sebagai contoh dalam Bahasa Banjar :
  • /sapida/ + /tinjak/ menjadi /sapida tinjak/
  • /ampun/ + /diri/ menjadi /ampun diri/

Dari berbagai pembentukan kata baru dalam Bahasa Banjar, ada kata-kata yang mirip dalam tulisan akan tetapi dalam pelafalan/pengucapan dari kata tersebut memiliki perbedaan. Ini khususnya pada kata kata yang ada huruf /c/ akan dibaca /k/, huruf /e/ berubah menjadi /i/, huruf /f/-/v/ akan dibaca /p/ dan huruf /o/ akan berubah ketika dalam pengucapan menjadi /u/.

Mengenal Jenis Jamur Pegunungan Meratus

Pegunungan Meratus merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Selatan dan terdiri dari bukit-bukit yang diselimuti hutan hujan tropis. Curah hujan yang tinggi menimbulkan kesuburan pada tanah sebagai media hidupnya tumbuh-tumbuhan. Salah satu jenis tumbuh-tumbuhan yang sangat subur hidup secara alami di kawasan ini adalah jenis Kulat (Id: Jamur). Dari berbagai jenis jamur yang bisa tumbuh ada yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan ada pula yang mengandung toksin atau racun.

Beberapa yang bisa saya temukan jenis jamur adalah sebagai berikut :








Legenda Pagat, Batu Benawa

Konon pada jaman dahulu kala, di desa yang sekarang disebut dengan Pagat, hiduplah seorang janda tua bernama Diang Ingsung dengan seorang anaknya yang bernama Raden Penganten. Kehidupan mereka berdua diliputi dengan rasa kasih sayang, karena keluarga itu hanya terdiri dari dua orang sehingga tidak ada anggota keluarga lain tempat membagi kecintaannya.

Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka hanya hidup dari alam sekitarnya, tanaman hanya terbatas pada halaman rumahnya, demikian pula perburuannya terbatas pada binatang-binatang yang ada di sekitar desa mereka.

Karena itulah maka pada suatu ketika sang anak, Raden Penganten berniat untuk pergi madam (Id: merantau) untuk mencari pengalaman dan kehidupan baru di negeri orang. Demikian keras kemauan si Raden Penganten, sehingga walaupun ia dihalang-halangi dan dilarang ibunya, ia tetap juga pada kemauannya.

Akhirnya, si ibu hanya tinggal berpesan kepada anak satu-satunya yang ia kasihi, agar anaknya membelikan sekedar oleh-oleh apabila anaknya kembali dari perantauan. Maka, berangkatlah Raden Penganten ke sebuah negeri yang jauh dari desanya. Di sana ia dapat memperoleh rezeki yang banyak, karena selalu jujur dalam setiap perbuatannya. Di sana ia dapat pula menabungkan uangnya hingga dapat membeli barang-barang yang berharga untuk dapat dibawa kembali kelak. Di perantauan, Raden Penganten dapat pula menikah dengan seorang putri dari negri tersebut yang cantik paras mukanya.

Demikianlah maka Raden Penganten dapat tinggal di perantauannya, untuk beberapa tahun lamanya. Pada suatu ketika timbul lah niat Raden Penganten untuk kembali ke negerinya dan menjumpai ibunya yang telah lama ia tinggalkan.

Dibelinya sebuah kapal, lalu dipenuhi dengan barang-barang. Pada saat yang telah ditentukan, berangkatlah ia bersama istrinya menuju kampung halaman di mana ibunya tinggal. Berita kedatangannya itu terdengar pula oleh ibunya. Ibunya yang sekarang telah tua, dengan sangat tergesa-gesa datang ke pelabuhan untuk menjemput anaknya yang tercinta.

Namun ketika sampai di pelabuhan, betapa kecewanya hati Diang Ingsung, jangankan mendapat oleh-oleh yang dipesannya dulu, mengakui dirinya sebagai ibu yang telah melahirkannya pun, Raden Penganten tidak mau. Rupanya, di depan istrinya yang cantik jelita, ia merasa malu mengakui Diang Ingsung yang telah tua renta dan berpenampilan sangat bersahaja itu sebagai ibunya.

Betapa besar rasa kecewa dan sakit hati Diang Ingsung. Tapi ia masih berusaha menginsafkan anaknya yang durhaka itu, tapi Raden Penganten tetap membantah dan tetap tidak mau mengakui ibunya itu. Ia malahan membelokkan kapalnya mengarah ke tujuan lain meninggalkan pelabuhan dan Diang Ingsung yang hancur hatinya karena perbuatan anaknya yang durhaka.

Dengan hati yang penuh diliputi rasa kecewa dan putus asa, Diang Ingsung lalu memohon kepada yang Maha Kuasa agar anaknya mendapat balasan yang setimpal dengan kedurhakaan terhadap dirinya.

Seketika itu juga datanglah badai dan topan menghempaskan kapal Raden Penganten hingga pecah menjadi dua. Tentu saja seluruh isi kapal itu termasuk anaknya yang durhaka tenggelam dan binasa. Adapun bekas pecahan kapal itu kemudian berunah menjadi gunung batu yang kemudian dinamakan Gunung Batu Banawa.

Sumber :
http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-mula-gunung-batu-banawa.html

Top